sebuah reuni | sayonara, forever.


Seminggu setelah kepergian Pak Yusuf, aku masih belum membuka titipan dari Uni Fika sendiri. Aku masih belum sempat membukanya. Selain karena pasien di ruangan yang cukup banyak, juga aku masih sedih akan kepergian seorang yang sudah menjadi pembimbingku untuk menjadi lebih dewasa lagi ke depannya.
Hingga suatu saat, setelah melalui beberapa pertimbangan, aku memutuskan untuk membuka titipan tersebut. Sontak, aku terkejut karena di dalam itu, tersedia sebuah gelang dan kalung berwarna hijau. Bersama dengan itu, ada sebuah surat di dalamnya.
"Anak Muda, pakailah kedua benda ini jika kamu merasa kurang baik. Efek dari benda ini akan semakin terasa setelah kamu menutup matamu. Dan, benda ini hanya bisa bekerja di kamu, tidak ada orang yang bisa merasakan efek serupa. Ini adalah peninggalan terakhirku. Sampai jumpa di pelabuhan yang baru. Saya tunggu ceritamu kelak."

OoOoOoOoOoO

Tanpa pikir panjang, aku langsung mencoba alat itu dan berbaring sejenak di kasur.
Tiba-tiba, aku dibawa kembali ke sebuah pantai tempat mimpi itu terjadi. Tempat aku diajak Nanako untuk hidup dengannya selamanya. Tetapi, yang terjadi justru berbeda. Aku tidak melihat Nanako, melainkan aku melihat sosok yang aku temui di sesi terakhir di pelabuhan itu. Siapa lagi kalau bukan Pak Yusuf. Aku langsung terkejut dan mulai mencoba melihat apa yang terjadi sebenarnya di sini. Apakah memang Pak Yusuf berhasil menghapus Nanako dari alam bawah sadarku? Setahuku, akulah yang berhak menghapus itu.
"Anak Muda, kita bertemu lagi. Maafkan jika saya harus melakukan ini. Tapi, Nanako sudah menantimu di sana. Silahkan bertemu."

OoOoOoOoOoO

Aku langsung bingung bagaimana ini terjadi. Aku coba berlari ke arah aku mendengar suara yang sama, suara teriakan yang memanggilku di saat mimpi pertama itu. Aku mulai semakin dekat dengan sumber suara itu. Kemudian, aku mulai dekati lagi, dia tersenyum menatapku. Kami hanya bisa saling bertatap, tidak ada niat dari kami untuk berpelukan.
"Cinta, sudah lama kita tidak bertemu lagi. Bagaimana kabarmu?"
"Kabarku sekarang baik. Bagaimana denganmu?"
"Aku sudah jauh lebih bahagia di sini."

OoOoOoOoOoO

Di situ kami pun kembali bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba, Nanako kembali menimpal pembahasan tentang Pak Yusuf.
"Cinta, aku tahu Pak Yusuf sepertinya orang yang baik. Tetapi, menurutmu apakah memang yang dipesankannya itu juga terbaik untuk kita?"
"Maafkan aku, Cinta. Sepertinya, memang kita tidak ditakdirkan untuk bertemu lagi. Aku benar-benar rindu sama kamu. Namun, masih banyak hal yang harus aku lakukan di dunia ini. Kamu pastinya tahu apa kerjaanku sekarang ini. Maafkan aku."
Mendengar jawabanku tadi, Nanako pun langsung menangis. Tetapi, aku sendiri memang sudah tegas untuk melupakan Nanako dalam-dalam. Bukan karena aku sudah tidak lagi cinta dengannya, Namun, apa yang sudah berlalu ditakdirkan untuk berlalu. Kita hanya bisa melihat ke belakang sebentar saja, jangan lama-lama. Biarkan semua yang ada ini untuk dijadikan pelajaran. Masih banyak hal baru yang bisa aku lakukan kembali di masa yang akan datang.

OoOoOoOoOoO

Setelah itu, Nanako langsung mengusap air matanya.dan kembali mendekatiku. Aku melihat ada kesan bahwa dia sudah mulai menerima keputusanku.
"Cinta, sebenarnya setelah cerita dari Pak Yusuf kemarin, aku sudah bisa menerima apa yang kamu putuskan sekarang ini. Terkadang, kita tidak bisa mengatur Tuhan terkait dunia hidup dan mati ini. Maafkan aku jika aku terus memaksamu, Cinta."
"Iya, aku juga berpikir serupa. Namun, memang, Tuhan membiarkanku di sini supaya aku bisa membantu banyak orang. Jadi, maafkan aku karena harus meninggalkanmu sekarang ini. Tetapi, jujur, aku lebih senang meliahtmu bahagia di sini ketimbang di sana."
'Terima kasih, Cinta."

OoOoOoOoOoO

Setelah sekian lama, kami pun kembali berpisah dengan yang sebenar-benarnya.
Jujur, aku sudah lelah dengan kehadiran Nanako dalam pikiranku ini. Sudah berkali-kali aku memikirkan akan sebuah reuni dimana aku merasa bahwa hanya Nanako orang yang bisa mencintaiku apa adanya dan dalam definisi itu, cinta yang sangat ikhlas. Tidak ada yang lain. Namun, nasihat dari Pak Yusuf kembali membangunkanku akan bagaimana cinta itu seharusnya. Cinta yang dikehendaki oleh Tuhan, bukan cinta yang mengatur Tuhan. Dari perjalanan singkat itu, aku juga mulai sadar bahwa hidup itu harus dilandasi oleh rasa saling cinta. Bukan hanya kepada orang yang spesifik saja, melainkan semua orang.
Dan, satu lagi, aku akan mencoba untuk hidup sebaik mungkin. Hidup ini hanya sekali, aku tidak mau ini dihiasi dengan ribuan penyesalan. Tentang apa yang seharusnya terjadi, tentang kenapa itu harus terjadi. Kesalahan selalu datang dalam hidup. Biarkan mereka menjadi pelajaran untuk hidup ke depan. Aku sudah bersalah membiarkan penyesalan itu menghampiriku lagi dan lagi. Jadi, untuk ke depan, biarkan aku berpetualangan mencari makna kehidupan yang baru. Biarkan juga aku berteman dengan kesalahan-kesalahan yang mungkin akan datang ke depannya.
Cerita dari Pak Yusuf menyadarkanku akan semua itu. Terima kasih atas semuanya.
Dan untuk Nanako, terima kasih akan reuni yang singkat ini.
Sayonara, forever.

OoOoOoOoOoO

THE END - 28 Januari 2020
Terima kasih atas waktunya untuk membaca seluruh bagian dari "sebuah reuni".
Terima kasih juga untuk kritik dan sarannya atas kebaikan dari "sebuah reuni".
Proyek ini hanyalah sebuah eksperimen untuk sebuah buku perjalanan jiwa yang aku sedang buat sekarang ini. Aku hanya bisa menjanjikan buku ini untuk dirilis pertengahan tahun 2020. Aku tidak bisa berjanji terlalu banyak untuk itu.
Oleh karena itu, izinkan aku untuk vakum dulu dari semua aktivitas sosial media selama kira-kira 1.5 bulan. Mungkin, ada satu atau dua post penting di bulan Februari, namun untuk seterusnya, akan tetap vakum. 
Jika ingin membaca seluruh cerita dari sebuah reuni, bisa dibaca di sini.

Part 1/5 : mimpi tentangmu
Part 2/5 : tempat aku menangis
Part 3/5 : detik-detik terakhirmu
Part 4/5 : reuni yang sebenarnya

Bagian fullnya dapat dibaca di sini
Wattpad - SEBUAH REUNI

Comments

  1. Saya pun lega dengan keberanian tokoh utama melepas 'cinta'nya. Patah hati adalah bagian dari perjalanan spiritualitas kita. Jika ia dewasa menyikapinya, ia naik level sebagai manusia. Good luck ya :)

    ReplyDelete
  2. kudu ngikutin dari awal nih daku. Adaversi whatpadnya kah?

    ReplyDelete
  3. Semoga sosok "Aku" dalam cerita ini tetap mengenang Nanako yang telah tiada.
    Karena seseorang itu akan tetap hidup dalam hati dan pikiran seseorang yang mencintai (kebaikan-kebaikan) nya.

    ReplyDelete
  4. Sukses untuk ceritanya Kak. Keren bisa konsisten menulis sepanjang ini. Aku suka dg tokoh Nanako. Lanjutkan.

    ReplyDelete
  5. wah mau dikembangkan lagi menjadi buku? pasti seru nih apalagi di bagian spiritualitasnya, gudlak dan semoga menjadi masterpiece :3

    ReplyDelete
  6. Saran, mas. Untuk episode sebelumnya sebaiknya dituliskan juga di awal-awal paragraf, jadi footnote atau gimana gitu.

    Saya baca dari awal dulu, kebingungan. "ini kayanya cerbung deh".

    Lepas dari itu, terakhir kali main ke sini, sudah cukup lama, keganggu sama pemilihan sudut pandang sama kata ganti orang yang gak konsisten.

    Sekarang sudah jauh lebih rapi, enak dibacanya juga.

    ehm, cover bukunya boleh loh sama saya lagi :-D

    ReplyDelete
  7. Dulu aku baca Nanako kukira nonfiksi. Jadi sebenarnya Nanako itu ada ga sih? Huaa aku lemot

    ReplyDelete
  8. Ini sad or happy ending ya. Tapi itu yang vakum 1.5 bulan masih di dalam cerita atau emang kontemplasi menyepi sambil selesaikan jadi buku? Eniwei apapun itu, aku hanya bs doakan, n aku suka jg nanako ini, .. jangan dilepaskan dong, dikenang hehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Terimakasih telah mengunjungi blog pribadi saya. Jika suka, jangan sungkan-sungkan lho untuk berkomentar. Salam kenal!

Popular posts from this blog

Cerpen | 5745 Kilometer

Cerpen | Merantau Bersama Tinta

Giveaway Buku Penjara Farhan! (Blog Competition)