sebuah reuni | reuni yang sebenarnya

sumber gambar : dokumentasi pribadi

"Gan, kamu nanti masuk siang kan?"
"Iya, Ra. Kenapa emangnya?"
"Ada pasien di ruangan Mekah nyariin kamu. Namanya Pak Yusuf kayaknya. Sudah tua, entahlah gimana ceritanya. Kalau bisa, datang ke sini segera, ya."
"Baiklah, nanti aku ke sana. Ini aku mau siap-siap dulu."
OoOoOoOoOoO
Setelah beberapa hari tidak mendengar sepucuk kabar dari Pak Yusuf, tiba-tiba aku mendengar kabar tentangnya dari Lara, teman kelompok jaga selama menjalani internship di sini. Aku dapat kabar itu pada jam 11 siang, di saat bangun tidur setelah sebelumnya menjalani sesi jaga malam di bangsal dengan pasien yang relatif aman. Di ruangan ICU sendiri, pasien hanya ada satu dan kondisinya sudah stabil. Rencana akan dipindahkan ke ruangan rawat inap biasa.
Aku sendiri sudah tahu sejak sesi audio kemarin itu bahwa kondisi kesehatan Pak Yusuf sudah memburuk. Namun, aku tidak menyangka bahwa beliau akan dirawat ke rumah sakit ini. Mengingat tempat ini yang teramat jauh dari rumahnya dan juga adanya rumah sakit lainnya yang lebih dekat dari sini. Aku langsung bergegas bersiap diri untuk datang ke RS. Aku masih bingung apa yang sebenarnya terjadi dengan Pak Yusuf ini, dan kenapa aku tahu itu dari Lara, bukan dari Uni Fika yang sering kabarkan soal kondisi terkini beliau.
OoOoOoOoOoO
"Dokter, tadi ada telpon dari Mekah, katanya sampean dicari sama salah satu keluarga pasien. Langsung datang aja ke sana, dok. Sudah ditanya berkali-kali soalnya."
"Baik, Mas. Soalnya, aku kenal pasiennya juga. Semacam kenalan gitu lah, sesama orang Minangkabau juga, kok."
"Tapi, ga ada masalah kan sama pasiennya itu?"
"Gak ada, Mas. Aku justru kaget kenapa pasiennya malah ke sini. Ngomong-ngomong, Lara di mana?"
"Lara di Ruang Rawat Inap Dewasa, dok. Diminta lihat pasien sebentar. Nanti tak infokan Lara aja kalo sampean mau ke Mekah sana."
"Baik, Mas."
OoOoOoOoOoO
"Siang, Mbak. Mau tanya, pasien atas nama Pak Yusuf ada di ruangan mana, ya?"
"Dokter, ini Pak Yusuf ada di kamar nomor 4, pasien dengan kondisi kanker paru stadium terminal. Dokter, mau tanya sebentar, katanya Pak Yusuf ini kenalannya dokter juga? Kira-kira, kenapa ya, dok, dengan pasien ini?"
"Apanya yang kenapa, Mbak?"
"Tadi, pas di IGD, keluarga pasien menolak untuk dirujuk ke RSUD, menolak untuk dipindahkan ke ruang perawatan intensif, dan juga menolak untuk diresusitasi. Inginnya hanya dirawat di sini saja dan bertemu Dokter. Begitu kata keluarganya tadi."
"Oalah, Pak Yusuf itu bisa dibilang semacam guru spiritual gitu lah, Mbak. Aku kenal dia baru pas awal-awal internship ini, dari seorang penjual nasi Padang dekat kost. Tapi, untuk keputusan dia yang menolak segala jenis perawatan ini, aku juga kurang paham. Dari cerita anaknya sih, Pak Yusuf ini cukup rutin untuk kontrol ke dokter soal kankernya itu. Gini aja, aku tak coba lihat dulu ya, Mbak. Nanti aku kabarkan jika misalnya sudah setuju untuk rujuk atau terapi lanjutan."
"Baik, dokter."
OoOoOoOoOoO
Dari cerita perawat ruangan tadi, aku tetap heran, apa yang membuat Pak Yusuf mulai kehilangan semangatnya untuk hidup kembali. Cerita dari perawat tadi membuatku mengambil kesimpulan bahwa bisa saja pertemuan ini jadi pertemuan yang terakhir bagi kami berdua. Tidak disangka selama 1,5 bulan kita membahas segala hal yang berkaitan dengan pikiran dan kejiwaan harus berakhir dengan cara yang sangat menyedihkan di sebuah ruangan yang berada tidak jauh dari tempatku kerja sekarang ini.
Membaca riwayat medis dari Pak Yusuf turut membuat aku kembali menangis. Hasil lab tidak menunjukkan apa yang aku inginkan. Prognosis sangat buruk sekali. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan lagi. Mungkin saja, kehadiranku akan membuat Pak Yusuf semakin dekat dengan dunia lainnya itu. Aku tidak mau kehilangan dia, sebagaimana dengan orang-orang yang berada di sekitar tempat tinggalnya. Orang-orang yang telah menjadi kliennya selama bertahun-tahun, mereka bisa saja akan menyalahkanku atas kejadian ini. Tapi, apalah daya, aku sudah terjebak di pusaran yang membingungkan ini. Yang harus aku lakukan adalah masuk ke ruangan itu dan bertemu beliau.
OoOoOoOoOoO
Aku pun telah sampai di kamar nomor 4 dan aku melihat ada Uni Fika menanti di sana dengan raut muka sabarnya, Pak Yusuf juga terbaring ringkih di sana, dan ketika melihatku, beliau langsung tersenyum seolah-olah aku hanya satu-satunya harapan di sana. Aku langsung mencium tangannya dan mencari waktu untuk bertanya tentang apa yang ada di dalam pikiran Pak Yusuf sendiri.
Sebelum aku berkata-kata, Pak Yusuf tiba-tiba memulai pembicaraan
"Anak Muda, saya paham apa yang akan kamu tanyakan setelah melihat saya di sini, terbujur lemas. Percayalah, ini tidak seburuk yang kamu bayangkan. Saya ingin bercerita denganmu. Bisakah?"
"Bisa, Pak Yusuf."
"Baiklah, kita mulai sesi ini kembali. Sesi ini mungkin akan sangat menyedihkan karena di sini kita akan membahas tentang solusi terbaik dari semua yang kamu ceritakan selama 1,5 bulan terakhir ini. Ketika kamu membicarakan tentang kisah sedihmu, tentang pertemananmu, tentang berbagai pikiran negatif yang menghampirimu itu. Anak Muda, pejamkan matamu sekarang."
OoOoOoOoOoO
Aku pun dibawa Pak Yusuf ke sebuah pelabuhan yang mengingatkanku akan tempatku dibesarkan dulu. Aku melihat kumpulan burung camar di sana, disertai dengan kapal yang lalu lalang berjalan memindahkan orang-orang di sana. Aku melihat banyak orang yang datang dan pergi setiap harinya. Ada yang pergi sendirian, ada yang diantar oleh orang terdekatnya. Mereka menaiki kapal-kapal itu dengan berbagai raut wajah yang berbeda. Ada yang senang, ada yang sedih, ada yang menunjukkan penyesalan, ada yang memamerkan rasa lega.
Di satu sisi, aku melihat Pak Yusuf, justru datang kepadaku dengan penampilan yang berbeda dari biasanya. Mukanya terlihat lebih muda dan bersih, tubuhnya juga terlihat lebih gagah, jalannya terlihat sangat yakin, tidak ada kesan yang aku temukan saat beliau terbaring di sana. Pak Yusuf langsung menghampiriku dan memberikan semua penjelasan tentang apa yang aku lihat sekarang ini
"Anak Muda, apa yang kamu lihat sekarang ini adalah sebuah simbol bagaimana kematian itu sebenarnya. Terus terang, semenjak istri saya meninggal, saya mulai merasa hidup ini tidak ada gunanya lagi. Istri saya benar-benar teman hidup saya yang paling baik, kami sudah menjalani kehidupan ini selama 46 tahun, dan banyak sekali yang sudah kami lewati.
Tak terhitung berapa kali kami sering bertengkar hanya demi hal-hal yang sebenarnya simpel.
Tak terhitung juga berapa kali kami sering jalan berduaan saja mengisi waktu luang yang ada.
Tak terhitung juga berapa kali kami cekcok hanya karena kesalahan anak-anak kita waktu itu.
Tak terhitung juga sudah berapa sering kami saling mendukung untuk kegiatan kami dulu.
Namun, apapun yang terjadi, jalan memang tidak pernah mulus bagi kami selama di 46 tahun perkawinan tersebut. Hanya cinta yang mampu membuat kami bertahan menyusuri segala halang rintang itu."
Di situ, aku melihat Pak Yusuf memegang sebuah tiket putih yang mengkilat bagaikan lembaran platina. Aku mencoba untuk menanyakan namun seperti biasa, Pak Yusuf kembali berbicara lagi.
"Anak Muda, apa yang saya pegang ini bukan tiket sembarangan. Ini adalah sebuah tiket pelayaran yang bersifat one-way. Tiket ini juga akan dimiliki oleh setiap makhluk di dunia ini. Begitu juga dengan kamu. Selama kita ada di muka bumi ini, kita sebenarnya sudah dipesankan sebuah tiket pelayaran yang akan membawa kita kembali ke rumah yang sudah disiapkan sejak lama untuk kita. Rumah terakhir kita."
"Kamu pasti bingung akan warna tiket ini. Warna ini menentukan akan duduk di mana kita kelak. Semakin bersinar warna tiket ini, maka semakin nyaman kursi yang akan kita peroleh. Semuanya tergantung dari apa yang telah kita perbuat di dunia ini. Bagi yang kerjaannya hanya bermalas-malasan di kasur, tiketnya juga akan dibuat dengan sangat malas. Begitu juga dengan yang kerjaannya buruk di dunia ini, kursi dikasih pastinya akan sangat menyakitkan."
"Anak Muda, yang membuat saya bertahan hidup ini justru adalah keinginan saya untuk membantu banyak orang. Seperti yang selalu dilakukan oleh istri saya dahulu sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, hidup di dunia ini memang harus saling membantu dan mencintai. Karena, sesungguhnya, cinta yang ada bukanlah hanya cinta dengan sepasang kekasih saja. Kata cinta harus kita ungkapkan dalam semua aliran darah yang kita pegang ini. Itulah yang membuat saya bertahan hidup dari sejak istri saya wafat sampai saya harus berjuang melawan kanker ini. Masih banyak janji dari istri saya yang belum saya selesaikan."
OoOoOoOoOoO
Aku pun diajak berjalan oleh Pak Yusuf menyusuri berbagai macam sisi dari pelabuhan ini. Aku melihat orang-orang di sini dibawa dengan cara yang berbeda. Ada yang dibawa beramai-ramai oleh keluarga dengan suara desak tangis yang besar, ada juga yang dibawa dengan cara yang kasar dengan suara marah yang sangat mencekam. Pak Yusuf bilang bahwa apa yang kita tanam selama kita hidup, itulah yang akan kita raih di pelabuhan ini. Lama bercerita, kami pun sampai di sebuah ruang tunggu.
"Anak Muda, semua orang hidup di dunia ini sebenarnya didudukkan di ruang tunggu. Sebuah panggilan sudah menanti mereka semua, namun waktunya kapan, itu benar-benar kuasa Tuhan. Tapi, panggilan itu pasti akan datang. Kapal-kapal itu sudah menanti untuk membawa mereka ke tempat-tempat yang sangat berbeda. Ada tempat yang nyaman, ada juga tempat yang penuh kesedihan. Semua berbanding lurus dengan perbuatan."
"Pak Yusuf, selama cerita ini, aku sebenarnya masih bingung, bagaimana dengan Nanako sendiri? Apakah dia juga melewati tempat ini dulunya?"
"Nanako juga merasakan hal ini. Dia sempat reunian dengan Hitoshi di ruang tunggu ini. Namun, kala itu, mereka dibawa ke jalan yang berbeda. Dan, jika saya harus jujur, Anak Muda, meskipun tempatnya Nanako memang baik, itu bukanlah tempat yang kamu inginkan."
OoOoOoOoOoO
Mendengar itu, aku langsung berpikir apa yang dimaksud dengan Pak Yusuf itu.
"Anak Muda, Nanako bukanlah cewek yang cocok untuk kamu. Memang, dia itu cinta mati sama kamu. Namun, apa yang berlebihan itu tidaklah baik. Cinta mati? Itu bukanlah cinta yang baik. Itu hanya berakhir sebagai racun yang kelak akan membunuhmu di masa depan. Nanako harusnya paham jika kamu itu masih dibutuhkan di dunia ini. Kenapa dia seolah memaksamu untuk kembali bersamamu? Kehidupan yang ada di Nanako itu sebenarnya tidaklah menyehatkan untuk kamu ikuti. Dia adalah cewek yang jujur, namun masih ada yang dia sembunyikan. Jika kalian memang bersama kelak, saya justru kasihan dengan masa depan Nanako kelak. Mungkin, dia akan mengalami hal yang jauh lebih parah dari yang terjadi."
"Bisa dibilang secara tidak langsung, apa yang dilakukan Hitoshi memang ada benarnya. Dia ingin menyelamatkan Nanako dari apa yang akan terjadi kelak. Kalian tidak akan mengerti."
OoOoOoOoOoO
"Pak Yusuf, terus apa yang harus aku lakukan?"
"Anak Muda, masih banyak orang di sekitarmu yang mencintaimu. Memang, kamu pernah cerita tentang bagaimana teman-temanmu menganggap remeh dirimu itu. Namun, bukan berarti semuanya berpikiran serupa. Masih ada yang menganggapmu baik, bahkan mungkin lebih dari apa yang Nanako anggap tentangmu sekarang. Hidup itu lebih luas dari yang kamu bayangkan. Masih banyak, kok. Selagi kamu masih muda, jangan hanya terfokus kepada satu titik saja."
"Baik, Pak. Terus, bagaimana dengan Pak Yusuf sendiri?"
"Anak Muda. Usia saya sekarang sudah tua. Saya sudah tidak bisa bergerak lagi seperti dulu. Selama ini, yang saya inginkan hanyalah reuni dengan istri saya lagi. Kami ingin mengenang masa lalu kembali. Dulu saya juga pernah mengalami hal serupa denganmu. Saya punya pacar yang meninggal karena suatu hal di usia mudanya, saya sempat stress dan berpikir bahwa dia satu-satunya bagi saya. Namun, saya coba pendam lagi dalam-dalam dan sekarang, saya bisa bertahan sekian lama dengan istri saya yang sekarang."
OoOoOoOoOoO
Kami pun terdiam sembari melihat apa yang ada di sekeliling kami berdua sekarang. Pengeras suara di atas selalu memanggil nama-nama untuk dimasukkan ke kapal yang berbeda. Tak henti-henti. Mereka langsung disortir sesuai dengan segala riwayat amal perbuatan mereka. Nama Pak Yusuf pun masih menunggu untuk dipanggil, namun beliau sudah dapat sebuah tiket penghantar. Berarti, nama Pak Yusuf hanya tinggal menunggu untuk dipanggil.
"Anak Muda, ini akan menjadi sesi terakhir untuk kita berdua. Percayalah, masih ada bunga lain yang menanti untuk dipetik oleh orang sepertimu. Mereka jauh lebih baik dari Nanako sekarang ini. Namun, jika memang kalian berdua sudah saling cinta, ingatlah, jangan berlebihan. Manfaatkan cinta sebaik mungkin. Sehignga, reuni kalian kelak akan berjalan dengan sangat indah. Saya jadi semakin tidak sabar untuk bertemu dengan istri saya lagi sekarang."
"Anak Muda, sampai jumpa di pelabuhan ini. Semoga kapal yang membawamu kelak akan membawa kabar bahagia. Ohya, setelah sesi ini, Fika sudah siapkan sebuah bingkisan khusus untukmu. Tolong disimpan. Ada pesan khusus di dalamnya. Baiklah, silahkan buka matamu."
OoOoOoOoOoO
Aku kembali membuka mataku dan aku terbangun dengan air mata yang mulai berceceran. Aku akan segera menyaksikan berpulangnya Pak Yusuf pelan-pelan di mataku. Aku juga melihat raut muka Uni Fika yang semakin murung. Namun, apalagi, yang bisa kami lakukan hanyalah berdo'a atas keajaiban terhadap Pak Yusuf. Tapi, semua itu hanyalah percuma.
Tuhan, apakah ini skenario yang Engaku berikan kepadaku?
Sementara itu, aku mulai bingung untuk memikirkan apa yang harus aku lakukan. Aku merasa bahwa Nanako adalah pilihan yang terbaik bagiku namun sepertinya Tuhan punya skenario yang lebih berarti dari itu. Pak Yusuf  perlahan-lahan mendekati pintu menuju kapal yang akan membawanya pulang. Uni Fika juga mulai pasrah dengan apa yang ada di depannya. Pak Yusuf perlahan-lahan mulai bernafas lemah.
OoOoOoOoOoO
Setelah berjuang selama 30 menit terakhir, Pak Yusuf sudah menghembuskan nafas terakhir. Gelombang-gelombang di monitor juga sudah menunjukkan garis datar, sama dengan suasana yang terjadi di kamar Pak Yusuf. Benar-benar damai, tangisan tidak begitu pecah terdengar. Semua keluarga sudah merelakan kepergian beliau. Dari Uni Fika hingga semua saudara yang mendapatkan kabar via telpon.
Mereka sudah menerima apa yang terjadi.
Mereka sudah paham bahwa inilah reuni yang Pak Yusuf inginkan.
Sebuah reuni yang diharuskan untuk terjadi.
Terima kasih, Pak Yusuf.

Comments

  1. Nah, bener banget segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik. Sama halnya dengan yang Pak Yusuf sampaikan apalagi tentang cinta, mungkin hanya perlu mencinta sekadarnya tidak perlu berlebihan.

    ReplyDelete
  2. Awalnya saya kira cerita nyata. Ternyata fiksi ya? Atau gabungan keduanya? Tidak mudah memang menyampaiakan kondisi medis yang buruk kepada pasien atau keluarganya, tapi tetap harus dilakukan.

    ReplyDelete
  3. Wah... Aku membayangkan sebuah perjalanan panjang dan dalam dari sebuah instropeksi kehidupan lalu diakhiri proses sakaratul maut. Seperti sebuah perjalanan yang sangat panjang. Ada banyaj pesan moralnya juga mas. Mantep sih

    ReplyDelete
  4. Ini fiksi atau kisah nyata iya kak?
    Btw, pesan dr guru spritual ini mengandung arti yg paling dalam dan mmberikan sisi positif dlm kehidupan sehari-hari..

    ReplyDelete
  5. Wah masih nyambung aja nih dengan si Nanako 😁
    Btw aku nanggapin soal suami2 yang ditinggal meninggal istrinya deh. Seringkali emang gtu apalagi yg dekat sekali dengan istrinya pasti saat istri meninggal semangat hidup suka hilang. Beda dengan perempuan biasanya lbh kuat kalau ditinggal duluan. Eh ini yg aku liat dr kondisi sekitar sih 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. minggu depan, atau hari Selasa depan itu adalah bagian terakhirnya. Setelah itu, akan aku edit dan rilis ke Kompasiana. Ditunggu, ya!

      Delete
  6. Ya ampun, saya bacanya sampai nunggu suami pulang dulu. Bagus ceritanya Mas. Yang oaling mengena bagi saya di bagian, setiap manusia didudukkan di ruang tunggu. Sedih bacanya :(

    ReplyDelete
  7. Masih muda masih banyak peluang dan kesempatan. Masih banyak bunga di taman, bunga yg sudah dipetik orang, biarkanlah. .

    ReplyDelete
  8. Wah terakhir baca tulisan yg tentang pak Yusuf, ga nyangka akhirnya di tulisan ini beliau meninggal..

    ReplyDelete
  9. Favorit sekali bagian ini, Kak Farhan! :3 mengenai cinta, dan juga kehidupan untuk terus berusaha sepelan apapun dan untuk terus percaya pada diri sendiri dan hidup. Karakter Pak Yusuf yang bijak pasti menaiki kapal dengan tenang ya, aku suka sekali penggambaran mengenai kapal ini. Ah iya kalau boleh saran, bagian "cewek yang cocok & cewek yang jujur" diganti dengan "perempuan yang cocok & perempuan yang jujur", saya rasa lebih pas untuk diucapkan karakter Pak Yusuf. Oke, selanjutnya aku penasaran!

    ReplyDelete
  10. Buat saya yang tipe penasaran tingkat tinggi, metode baca cepat gak bisa dilakukan :(
    Baca cerpen fiksi seperti ini ternyata mesti fokus dan penuh penjiwaan.

    ReplyDelete
  11. Kalau baca cerita tentang kepergian seseorang seperti ini aku selalu ikut merasa sedih kak, tahu banget rasanya ditinggal pergi oleh orang yg kita sayang

    ReplyDelete
  12. Cerittanya Masih bersambung ya? Bingkisan Dari Pak Yusuf yg dititipkan ke Fika belum muncul, kira-kira apakah isi nya yaa? Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. Selasa nanti akan ada part terakhir. Ditunggu ya!

      Delete
  13. Kukira ini curhat dari kisah nyata, Kak. Ternyata Fiksi? Aku suka banget gaya bahasanya, ringan....

    Masih bersambungkah? Aku penasaran dengan pesan khusus di bingkisan yang diditipkan kepada Uni Fika.

    ReplyDelete
  14. Apapun yang berlebihan itu tidak baik. Racun. Jika tak berhasil menahannya agar tidak lepas kendali, maka itu sebuah pesan agar berhenti.
    Merelakan.
    Ayo bangkit.

    Selamat jalan, Pak Yusuf.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terimakasih telah mengunjungi blog pribadi saya. Jika suka, jangan sungkan-sungkan lho untuk berkomentar. Salam kenal!

Popular posts from this blog

Cerpen | 5745 Kilometer

Cerpen | Merantau Bersama Tinta

Giveaway Buku Penjara Farhan! (Blog Competition)