Inertia | station 01 : Buka Bersama




INERTIA

“Bagaimana jika kamu bisa kembali sebentar ke masa lalumu?”
Masa lalu memang adalah tempat terjauh di muka bumi ini. Kita tidak bisa mencapainya, bahkan alat sekeren apapun juga belum mampu untuk mencapai tempat itu. Alat ini pun juga.
Namun, alat ini hanya mengajakmu kembali sejenak, mengunjungi beberapa kepingan masa lalu yang kelam. Tujuannya hanyalah untuk melihat apa yang terjadi misalnya kamu melakukan yang awalnya kamu tidak lakukan, ataupun sebaliknya.
Alat ini tidak dijual secara bebas. Dan, hanya berlaku untuk satu kali putaran mainan saja.
Selamat bermain! Namun, ingat, keselamatan sangatlah penting!


OoOoOoOoOoO

Selamat datang di INERTIA.

Sebuah permainan tentang keputusan dalam tindakan.
Kamu akan kembali mengunjungi bagian kelam dari masa lalu. Kami telah membagikan semuanya dalam beberapa station. Station ini memiliki skenario masing-masing, dimana keputusan dan tindakan ada di tanganmu sendiri.
Apakah kamu akan bertindak atau malah membiarkannya?
Semua ada di tanganmu.
Kamu sudah siap?
YA / TIDAK.

OoOoOoOoOoO


Membaca pesan-pesan tadi semakin membuatku tidak sabar untuk masuk ke dalam “Inersia” itu sendiri. Entah, seperti apa yang akan terjadi di sana. Menurutku, ini semcam sebuah permainan yang tidak akan menganggu dimensi waktu manapun. Seperti yang kita ketahui, bahwa sampai sekarang, masih belum ditemukan cara kita untuk bergerak dalam dimensi waktu. Dimensi yang sering disebut sebagai dimensi ke-empat oleh para cendekiawan.

Jika memang kita bisa menggerakkan waktu, pasti akan menjadi penemuan yang fantastis dan meledakkan otak kita. Bahkan, untuk sekedar gerak maju dan mundur 0.0038 detik saja sudah sangat brilian. Sayangnya, masih belum ada penemuan tentang itu. Kalaupun ada, itu akan jadi wisata yang akan membosankan karena ulah para “influencer” menyebalkan. Lihatlah apa yang terjadi pada kebun bunga Amarilis di Gunung Kidul. Demi estetika, orang-orang rela mengorbankan etika.
Tanpa pikir panjang, aku mulai mencoba masuk ke alat itu, dan menekan tombol “YA” untuk memulai permainan. Di situ muncul sebuah suara yang mengingatkanku akan sosok Thalia di album rapper Logic berjudul “Under Pressure”, sebuah suara yang sebenarnya adalah suara dari A.I. (Artificial Intelligence).

Selamat datang di Inersia. Sebuah permainan tentang tindakan dan keputusan. Saya Kinan, saya berperan sebagai asisten anda selama menelusuri alat ini. Pastikan anda sudah membaca manual yang dikasih sebelumnya. Dalam beberapa detik, anda akan masuk ke station pertama. Silahkan menunggu sambil tarik nafas sejenak, karena ini akan menjadi perjalanan yang menarik.
Ingat, anda akan tetap berperan sebagai diri anda sendiri. Semua orang yang ada di sini juga tetap sama, dari segala hal, baik muka, sifat, dan kecerdasannya. Selamat berpetualang!”

OoOoOoOoOoO

Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya aku masuk ke station pertama. Melihat latar dari sini, sontak membuatku teringat akan satu hal. Ini adalah restoran tempat dimana kelompokku buka bersama sebelum koass. Tempat dimana kami mulai berbicara untuk pertama kalinya. Sepertinya, permainan ini akan membawaku kembali ke masa koass, salah satu bagian terkelam dalam hidupku. Masa yang memberikanku penyesalan paling dalam. Tidak seperti yang orang pikirkan bahwa koass itu layak dikenang, tidak untuk diulang. Kisah koassku sangatlah bertentangan dengan ini semua. Ketika orang-orang mengangkat soal kisah itu, yang ada hanyalah beribu macam skenario pengandaian.

Gani, selamat datang di station pertama. Kamu akan duduk di sebuah restoran, menjalani buka bersama pertama dengan kelompok 16-02-B. Dari sensor, sepertinya kamu sudah tau tempat ini dimana dan kamu bersama siapa kala itu. Begitu juga dengan perasaanmu di saat station ini terjadi. Tanpa banyak berkata-kata, selamat bermain!

OoOoOoOoOoO

STATION 1.
WAKTU : JUNI 2016

"Anda sudah masuk ke station pertama. Silahkan memulai kegiatanmu di sini. Anggap saja ini sebagai perkenalan anda dengan suasana yang akan anda kenal kelak. Selagi menunggu, akan ditayangkan beberapa kilas balik kegiatan sebelum terjadinya titik di station pertama ini. Selamat bermain!"

Aku diturunkan di rumahku, kala itu pembicaraan grup LINE sedang ramai tentang rencana buka puasa bersama kelompok 16-02-B. Kelompok koassku yang terdiri atas 14 orang. Tidak kerasa juga, masa koass akan segera berlangsung. Setelah berjuang selama 3.5 tahun belajar fase pre-klinik di FK UGM dengan peluh keringat. Mulai dari belajar ilmu kedokteran dasar seperti anatomi, histologi, dan fisiologi hingga belajar ilmu yang cukup advanced, kayak patologi anatomi ataupun klinik, sampai menghafal patofisiologi dari penyakit tertentu. Kami pun mulai masuk ke step yang krusial untuk mendapatkan gelar dokter. KO-ASS! Satu langkah lagi, bro!

Ya, SATU. LANGKAH. LAGI.

Dari awal, aku sangat antusias untuk tahu siapa teman-teman yang akan bersamaku saat koass ini. Aku benar-benar berharap semoga kelak dapat teman yang cukup membantu kekuranganku selama ini. Inginnya sih bareng teman-teman yang sudah akrab, jadinya tercipta chemistry yang bagus kelak. Terlihat jelas kecemasanku saat menjalani pelatihan pra-koass di RSUP Dr. Sardjito. Jujur, tidak banyak yang aku akrab dengan orang-orang yang mengikuti koass di gelombang ini. Sehingga, bisa dibilang gelombang ini tidaklah begitu menarik bagiku. Isinya, ya, orang yang pintar dan juga rajin. Entahlah, bagaimana aku bisa menyamakan diriku yang sangat cupu dengan mereka semua ini.

Ya, hingga akhirnya satu malam ketika resmi diumumkan pembagian kelompok koass. Aku berada di kelompok 16-02-B. Dan, kagetnya, ada beberapa nama yang cukup familiar di sini. Di sini, aku ditempatkan bersama Raka dan Mila, dua orang yang aku kenal dekat saat pre-klinik. Mila sendiri aku kenal karena dulunya sempat pacaran dengan Bagas, sahabat dekatku saat S1 atau banyak asumsi yang menganggap itu hanyalah hubungan berbasis lintah belaka. Ah sudahlah, yang penting, masa pre-klinik dulu tetaplah menyenangkan. Masih teringat bagiku tentang coklat hadiah Valentine yang Mila kasih ke aku dulu. Belum lagi, ada Zain dan David yang aku kenal karena sempat sekelas saat kuliah dulu. Sisanya, aku belum kenal secara dalam. Aku sempat kenal dengan Siwi dan Fiani, karena pernah satu organisasi dulunya di kampus. Namun, aku pun harus keluar dari organisasi apapun karena ga begitu niat, ya selain juga karena larangan dari orangtua, sih. Dan, sisanya, aku sangat abu-abu tentang mereka. Serius.

Setelah foto bareng di hari akhir pelatihan pra-koass, kami pun kumpul sejenak untuk memastikan rencana buka bareng kelompok 16-02-B. Sebelumnya, kami saling berbagi akun sosmed masing-masing, terutama jika ada satu orang yang ingin unggah foto bareng pertama tadi, bisa di-tag ke masing-masing orang. 

OoOoOoOoOoO

Acara buka bersama pun dimulai. Kami semua sudah menentukan jam dan tempat untuk berkumpul. Felix selaku ketua kelompok juga menyatakan bahwa dalam acara ini, akan dibagi siapa yang bertanggung jawab selama masing-masing stase. Jadi, menurut agenda koass yang ada, kita akan menjalani 14 stase dalam waktu sekitar 2 tahun. 12 stase di RS (klinik), 1 stase IKM yang masih berpusat di FK UGM, 1 stase KKN yang dilakukan bersama mahasiswa fakultas lainnya. Jadi, lumayan pas, untuk dibagi sesuai dengan jumlah 14 orang yang dimiliki.

Aku pun berangkat dari rumah pukul 4.30 sore, bersama motor dan ditemani headset memutarkan lagu-lagu bertema Islami. Maklum, kala itu, masih suasana Ramdan. Aku pun langsung meluncur ke restoran yang dimaksud, restoran yang jika dilihat laig, lebih sering menyajikan makanan tradisional. 15 menit setelahnya, aku pun sampai di restoran yang dimaksud. Di sana, sudah ada Raka dan David yang sampai duluan dan mengambil tempat duduk. Kami bertiga pun berbincang random menunggu teman-teman yang lain datang. Sebelumnya, Yani sudah minta izin lewat group chat, tidak bisa datang, karena ada acara keluarga di Semarang.

OoOoOoOoOoO

Tak lama kemudian, satu persatu orang sudah mulai berdatangan. Formasi sudah lengkap, 13 orang, acara pun dimulai. Masing-masing dari kami mulai memesan makanan, aku waktu itu pesan ayam goreng dengan minum es teh manis. Simpel saja, tidak aneh-aneh, karena kelak, kami juga yang akan bayar masing-masing. Hehehe.

Pembicaraan kami pun dimulai dengan Nina dan Fiani yang meminta untuk dilakukan sesi perkenalan masing-masing anggota kelompok. Menceritakan tentang siapa nama, asal daerah, serta sifat aslinya seperti apa. Tujuannya biar bisa tercipta rasa saling mengerti di antara kelompok sendiri. Sebelumnya, Zain sudah didekati beberapa anak, karena dia juga adalah kiper tim futsal di kelas kami waktu itu. Ya, selain karena dia juga punya kharisma yang menawan, sih. Dia juga agak mirip dengan Teuku Wisnu jika dilihat sekilas. Sayangnya, dia sudah punya pacar.

Mila juga sudah mulai berbaur dengan beberapa orang yang dia baru kenal kala itu. Memang, di program studi, kami terbagi menjadi dua kelas, yaitu kelas Reguler dan kelas Internasional. Aku, Raka, Mila, Zain dan David merupakan perwakilan dari kelas Internasional. Yang membedakan hanyalah harga semester yang lebih mahal, ruang tutorial yang berbeda, dan bahan studi kami yang dibawakan dalam Bahasa Inggris.

OoOoOoOoOoO

Kami pun mengenalkan diri satu persatu. Memahami kelakuan masing-masing teman yang akan menemani masa koassku selama 2 tahun ke depan. Saat David mulai kenalan, orang-orang mulai menanyakan soal akun Instagram dia yang penuh dengan hasil fotografi. Memang, di awal kenalan, David cerita kalau dia senang dengan fotografi. Belum lagi saat Fiani kenalan, dia cerita bahwa dia adalah tipe orang yang segan untuk menolak apapun, entah itu soal tukaran jatah jaga atau tukaran apapun. Sampai di situ tidak ada lagi hal yang berkesan, ketika Mila kenalan dan menyebutkan bahwa kelompok kita ini “terkutuk” karena ada dia, aku dan Raka, aku sontak kaget. Ya, kami bertiga terkenal akan kerecehan kami. Apalagi, Raka, saking recehnya, dia sempat jadi bahan “meme” nasional. Masih ada perasaan bahwa aku akan jadi sampah bagi kelompok ini.

Sesi perkenalan pun mulai terasa abu-abu bagiku di kala giliran Risha untuk kenalan. Risha ini adalah sosok yang langka di mataku. Perawakan kecil, berkacamata, pakai kerudung, dan punya muka keArab-Araban. Langka bukan karena dia cantik atau gimana, namun karena untuk pertama kalinya, aku bertemu dengan orang yang langsung membuatku benci dari pandangan pertama. Ya, jarang kan. Awalnya justru karena adanya tahi lalat di kawasan hidung dan mulut. Entah kenapa, di saat melihat orang seperti itu, kecantikannya justru berkurang di mataku. Ya, kecuali jika sifatnya baik dan orangnya enak diajak ngobrol.

“Nama aku Risha, aku dari program Reguler. Mohon maaf, ya, aku itu orangnya suka kayak gini, kadang-kadang. Ohya, kelemahan aku itu, aku orang yang sering lupa arah. Jadi, mohon bantuannya, ya, guys!”

Suara Risha yang terkesan kekanak-kanakan ini membuat kadar kebencianku semakin bertambah. Aku menangkap bahwa dia adalah sosok yang memang sesuai dengan suaranya. Kekanak-kanakan, doyan baper, dan mudah sensitif. Kurang apa lagi coba alasan untuk membenci di awal bertemu. Bahkan, setelah Risha selesai, sama sekali aku ga ada niat untuk bertatap muka dengannya. Sempat terbersit harapan untuk tidak satu kelompok saat koass nanti. Maksudnya, satu DPK ataupun satu jejaring dengannya. Tapi, jika dilihat dari absen yang berdekatan, sepertinya ini tidak mungkin.

“Halo, guys! Namaku Tika, dari program Reguler. Asli dari Jogja. Mohon bantuannya ya, guys! Aku ini orangnya ya, lumayan woles. Dan, kelemahannya adalah, aku kalo ada acara, sering banget telat.

Lain benci, lain juga dengan cinta. Di sini juga aku kenalan dengan Tika. Seorang asli Jogjakarta, perawakannya juga cukup kecil, namun condong berisi (mohon jangan dikaitkan secara seksual, tolong), pipinya agak tembem, dengan mata yang condong bulat merona. Kulitnya coklat, dan tutur katanya juga sangat santun. Duduknya kala itu di samping Risha, itu juga karena dia telat datang. Jadi, aku melihat surga dan neraka langsung dalam kursi yang berdekatan.

OoOoOoOoOoO

Akhirnya giliranku pun dimulai. Aku sendiri bingung harus berkata apa kala itu, sifat kurang pede ini selalu mengalir saat berkenalan. Efeknya, bisa ke ngomong jadi belibetan seolah minta air putih, atau bisa juga kata-kata yang sebelumnya disusun dengan rapi, jadinya malah hilang melayang kayak burung di udara. Eaak. Dan, saat Intan menyuruhku untuk maju. Aku langsung mencoba tarik nafas dalam-dalam, ditemani dengan detak jantung yang cepat (istilah medis = takikardia), aku coba mulai mengutarakan kata satu persatu.

“Halo, guys! Nama aku Afgani Hanafi Koto. Panggil saja saya Gani. Saya asli Padang, dari program Internasional. Mohon bantuannya ya, guys! Memang benar kata Mila sebelumnya, aku juga terkenal sebagai orang yang jayus (bahasa jadul dari receh), sama dengan Raka juga. Aku juga orangnya agak pendiam, dan mudah sensitif. Aku juga soal rajin dan malas itu tergantung, bisa  Jadi, mohon pengertian juga. Untuk yang lain, ya, bisa dilihat aja nantinya.”

Iya, jika kamu berpikir itu sudah bagus. Percayalah, masih ada beberapa kata yang ingin aku ucapkan lagi. Tentang bagaimana tulisanku sempat laku di salah situs nasional, atau bagaimana dulu aku pernah mengelola sebuah blog kesehatan. Tapi, semua hanyalah sirna dibandingkan kehebatan orang lain. Tulisanku yang laku tidak sama sekali membahas kesehatan, melainkan membahas hip-hop. Sebuah kultur yang jarang dimasuki oleh anak kedokteran. Sampai sekarang, aku baru nemu satu orang yang paham hip-hop secara luas. Dan, dia anak Malaysia, namanya Arnav. Koleksinya lebih banyak dari aku. Favoritnya, entahlah siapa.  

Setelah perkenalan selesai, Felix pun langsung melakukan undian penentuan ketua stase. Sesuai kesepakatan awal, stase pertama ini akan diketuai oleh Felix dulu. Kemudian, stase lainnya, lanjut sesuai undian. Masing-masing sudah berharap untuk mendapatkan stase yang urusannya santai. Ada juga yang berharap dapat stase yang dia akrab, banyak lah harapan yang bermunculan dari undian itu. Setelah melihat beberapa kemungkinan, disepakati juga bahwa untuk Stase Saraf akan diketuai oleh Raka, melihat tampakannya yang terkenal alim. Kemudian, Mila mengurusi stase Bedah karena tradisinya. Kemudian, untuk stase Kulit untuk diketuai oleh Kak Nessa.

Dibantu oleh Fiani dan Intan, undian pun dimulai. Kami ambil satu persatu kertas yang akan menentukan arah hidup kita (halah lebay). Sesuai kesepakatan juga, stase Penyakit Dalam akan dipegang oleh dua chief (ketua) yang juga akan ditentukan melalui kertas ini. Akhirnya, kertas pun mulai diambil dan sangat disayangkan, aku dapat jatah untuk ngurus stase THT. Padahal, aku sendiri berdo’a supaya dapat di stase Forensik. Awal yang biasa saja, karena tidak ada review khusus terkait chief di stase THT. It may be good but it may also be bad, we’ll never know.

OoOoOoOoOoO

Setelah sekian lama bersenda gurau menikmati makanan, kami pun mengakhiri pertemuan ini. Tentu saja, sholat Magrib bareng dulu tadi. Kami pun langsung pamit kembali ke rumah masing-masing. Dan di dalam perjalanan, aku coba rekap sejenak pertemuan tadi di dalam otak.

Kesimpulannya, perasaanku tentang mereka masih campur aduk. Mereka sangatlah berbeda dengan teman-teman yang aku temui sebelumnya. Aku belum pernah ketemu orang seperti Nina ataupun Risha. Bahkan, dari peristiwa sebelumnya, aku juga punya riwayat kesal dengan orang seperti Fiani. Aku juga masih kepikiran akan masa lalu aku dulu dengan Siwi, apakah dia masih ingat atau gimana. Benar-benar 16-02-B sendiri memberikan tantangan baru bagiku. 

Sebagai tambahan juga, hari itu, Yani tidak ada. Aku belum tahu segala tentangnya, yang aku tahu dari teman-teman, dia orangnya cukup suka bercanda, dan condong sarkas. Tapi, entahlah. Dari skrining awal, sepertinya aku condong tidak suka dengannya. 

Ya, sekali lagi, entahlah, apakah aku bisa berteman baik dengan mereka atau gimana.

Tuhan, apapun yang terjadi, jalani saja dua tahun ini. Aku hanya ingin tahu bagaimana akhir dari semuanya.

OoOoOoOoOoO

“Anda telah mengakhiri station pertama dari Inertia. Aku lihat, anda sepertinya sudah tahu apa yang akan terjadi di station berikutnya. Semoga kamu berhasil dan bisa mengambil pelajaran yang terjadi dari sini. Silahkan beristirahat sejenak di dunia nyata dan menghitung untuk aksi berikutnya. Jika sudah siap ke station berikutnya, anda bisa mampir kembali ke Inersia.
SPOILER : Station berikutnya akan lebih lama dari ini. Asupan energi lebih sangatlah direkomendasikan untuk ini. Ganbatte kudasai!”

Suara dari Kinan tadi menandakan station pertama sudah selesai. Saatnya untuk kembali ke kasur, beristirahat sejenak untuk station berikutnya.

Comments

  1. Whoaaah ada perasaan benci ke Risha karena sifatnya, ini di tengah2 alur bisa jadi cerita menarik nih konflik2nya. Inertia ini semacam refleksi atau dunia paralel kah?

    ReplyDelete
  2. Inertia ini cerpen atau cerita fakta mba. Tapi saya nyaman membacanya meskipun sesekali harus mengerutkan kening untuk memahami alurnya. Penasaran dengan apa yang terjadi pada station selanjutnya. Apakah tebakan saya akan sama? Hehehe

    ReplyDelete
  3. Berbicara masalah grup Line, dulu sempat gabung di grup Line yang heboh banget, 10 menit chat sudah 999++ hahahaha, tapi sekarang pada sibuk semua, dan malah gak make lagi LINE. Salut bagi yang masih konsisten.

    ReplyDelete
  4. btw, yang AI pas menyampaikan pesan, kata sapaan orang masih campur. Si AI ngomongnya masih campur, kadang pake Anda, kadang pake kamu. sebaiknya disesuaikan saja...

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku ada kesalahan dalam perubahan waktu itu. nice feedback! thanks!

      Delete
  5. HEhehe...kayaknya menag ada ya orang yang pas pertama kita lihat aja kita dah kurang suka gitu tanpa alasan, kasihan Risha

    ReplyDelete
  6. Inertia bikin penasaran level dewa. Seolah sedang membangunkan seseorang untuk jadi diri sendirinya. Dalam mengambil keputusan harus di putuskan sendiri tanpa harus berlama-lama.

    ReplyDelete
  7. Kadang entah mengapa saat berjumpa dengan seseorang, timbul rasa kurang suka dan suka. Padahal belum kenal lebih jauh. Seperti apa ya stasiun selanjutnya dari Inertia, ditunggu lanjutannya.

    ReplyDelete
  8. Wah settingnya 2016, artinya masih dalam fase yg aku kenal masa nya. Duh.. jadikan novel aja dah ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang iya. Tinggal dilanjutkan aja. Sebenarnya, bab lainnya sudah selesai. Tinggal diedit aja.

      Delete
  9. Pengen juga bisa main permainan inersia biar bisa kembali ke mass lalu dan memperbaikinya, memang kadang gitu ya, kurang suka pada orang tanpa sebab padahal baru pertama bertemu, tapi saya suka meyakinkan diri kalau belum mengenalnya, kalau sudah kenal mungkin bisa melihat sisi baik darinya

    ReplyDelete
  10. Lanjutkan jadi novel. Aku masih agak kurang mudeng bagian ambil keputusan berbeda di tiap station. Tadi di station 1 berarti tokoh utama ga melakukan tindakan pilihan yg berbeda dr kenyataan atau gimana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Station 1 itu pada intinya tokoh utama masih orientasi dengan program ini.

      Station berikutnya akan lebih jelas bagaimana makna dari "keputusan" itu.

      Thanks atas sarannya!

      Delete
  11. Aku jadi membayangkan juga kalau aku mundur ke masa lalu, mungkin ada beberapa keputusan yang aku ubah. Tapi emang kesalahan2 di masa lalu itu pelajaran berharga ya...
    Btw serius ini bagus banget lho coba mas dibukukan jd novel fiksi atau gmn gtu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali! Thanks! Ditunggu ya. Aku akan rilis ini di Wattpad atau aplikasi novel online lainnya.

      Delete
  12. Alur ceritanya menarik, bisa dijadiin novel ni kayaknya, lanjutkan ayo,

    ReplyDelete
  13. Kalo aku boleh tafsirkan, tulisan ini mengajak ke masa lalu. Tapi, memaksa kita untuk menghadapi masa depan juga.

    Intinya, biar move on gitu*

    ReplyDelete

Post a Comment

Terimakasih telah mengunjungi blog pribadi saya. Jika suka, jangan sungkan-sungkan lho untuk berkomentar. Salam kenal!

Popular posts from this blog

Nge-Diss dalam Hip-Hop (#PikiranGue Ep. 1)

Apakah Eminem Layak Menjadi "King Of Hip Hop"?

Reject, Respect, React (#PikiranGue Ep. 3)