Inertia, A Game of Past Times.



“Andai ku dapat memutar waktu, semuanya takkan terjadi.”

Potongan lirik lagu Andra and The Backbone yang berjudul “Hitamku” ini membuatku merenung akan kesalahan yang telah aku perbuat selama ini. Lagu ini tiba-tiba kepikiran saja saat sedang menggarap tugas penelitian di kampus. Kala itu, aku sendirian, ditambah ide tulisan yang tersentak di satu halaman, memikirkan bagaimana kata yang bisa diketikkan untuk proposal, ditambah dengan revisi yang sering tak konsisten dari dr. Bagus, dosen Forensik yang menawarkan aku untuk ikut dalam penelitiannya. Untungnya, dia orang yang sangat baik, setidaknya menurut orang-orang yang pernah kerja bareng dengannya.

But, who knows?

Dan, di kala lagu itu terputar di pikiran, aku mulai memikirkan satu hal. Selama ini, aku selalu menyesal akan beberapa kesalahan besar di masa lalu. Cukup banyak lah. Dan, entah kenapa, aku mulai kepikiran akan masa koass yang bisa dibilang masa terburukku dalam hidup. Sudah berapa kali aku datang ke Rumah Sakit dengan perasaan negatif. Masuk ke stase manapun serasa ibarat neraka kala itu. Tidak ada nikmatnya masa koass waktu itu. Masa terberat dalam Pendidikan Kedokteran, kalian bisa sebut itu sebagai Rotasi Klinik atau Program Profesi. Program yang bersifat fardhu ‘ain jika kamu ingin mendapatkan gelar dokter (dr.).

Bisa dibilang, otakku kala itu hanya ibarat portal. Msauk telinga kiri, keluar telinga kanan.
Kala itu, yang aku ingin lakukan hanyalah balik ke rumah, bersantai menikmati Wi-Fi sembari nonton YouTube ga jelas, atau sekadar menikmati game di laptop. Ataupun mungkin, pulang ke rumah sembari jalan-jalan berlama-lama naik motor kesayangan.

Entah dari hawanya, begitu juga dengan teman-teman di kelompok koass kala itu. Seolah, rasa benciku dengan Risha justru mengembang ke teman lainnya. Sempat teringat di aku, bagaimana aku sampai mengumpat keras ke Raka, teman akrabku dari zaman kuliah S1, hanya karena masalah kecil belaka. Atau, bagaimana aku sempat jadi public enemy di kelompok tersebut. Sampai ada satu orang yang bilang gini saat stase Penyakit Dalam

“Lo itu mau enaknya doang, Gani! Egois banget lo jadi orang. Bilangnya, kita selama ini ngerendahin lo, padahal lo aja kan yang ga mau nongkrong bareng kita.”

Ah, kenapa aku masih sering teringat pikiran tersebut. Padahal, kita semua sudah terpencar satu sama lain. Jujur, ingin rasanya untuk kembali ke waktu dulu. Untuk sekadar mengubah apa yang telah terjadi, mungkin kita bisa bercanda bareng, bahkan mungkin lulus bareng. Hal ini juga yang kelak aku takutkan jika misalnya sudah masuk program Internship. Sebuah program wajib yang dijalani oleh dokter lulusan baru untuk memperoleh Surat Izin Praktik (SIP) secara resmi. Di masa yang setahun itu, apakah aku kelak berakhir sama dengan masa koass dulu.

Tiba-tiba, aku jadi teringat, sebuah kiriman paket dari Nanako. Seorang teman yang aku kenal dari sosial media dulu. Pertemuan singkat kami di Jogja memanglah sangat berkesan. Kami saling bertukar cerita tentang masa lalu yang beragam. Mulai dari saat kuliah, saat dia pacaran dulu, bahkan aku juga turut cerita tentang masa koass dulu. Sangat disayangkan, itu juga menjadi pertemuan terakhir bagi kami. Nanako harus berpulang terlebih dahulu secara naas karena kecelakaan. Meskipun itu, Nanako sempat mengirimkan sebuah paket dari Jepang seminggu sebelum kejadian tersebut. Aku pun belum sempat untuk membuka isinya, karena baru sampai di rumah kemarin.

OoOoOoOoOoO

Sesampai di rumah, aku langsung membuka paket dari Nanako itu. Dari perabaan, paket ini cukup berat. Aku sempat curiga apakah paket ini berisi bom atau gimana. Tapi, jika sudah berhasil melewati proses pemeriksaan, mestinya paket ini tidak berisi barang berbahaya. Aku pun mulai membukanya, satu-persatu lapisan aku buka. Sampai ibuku di rumah pun bingung anaknya kesambet apa, tiba-tiba minta pisau. Jika kejadian ini terjadi 1 tahun lalu, mungkin ibuku langsung cemas karena mungkin anak satu-satunya ini mau bunuh diri.
Akhirnya, paket itu berhasil aku buka, dan isinya membuat aku sontak bingung. Ada satu kacamata mirip kacamata VR (virtual reality), satu monitor kecil seukuran iPad gitu, dan satu kabel yang mirip kabel alat rekam jantung (EKG). Disertai itu juga, ada dua lembar kertas bertuliskan “Dear Gani” dan “Inertia”.

OoOoOoOoOoO

Dear Gani,
Terima kasih atas pertemuan selama 5 hari yang hangat. Kamu telah membawaku keliling menikmati Yogyakarta yang penuh dengan damai. Aku ingin selalu berkunjung ke sana. Namun, apakah kita akan bertemu lagi? Entahlah. Ceritamu tentang masa koass itu membuatku bersedih. Aku tahu kamu ingin banget untuk mengulangi waktu itu kembali dan bertingkah berbeda seperti dahulu.
Tapi, Cinta, kamu tahukan waktu tidak bisa diulang lagi. Jika memang itu bisa, pasti semua orang juga ingin kembali ke tempat dimana kesalahan tersebut terjadi. Aku juga seperti itu, kok. Banyak penyesalan yang selalu menumpuk dan membuatku masih merasa bersalah hingga sekarang ini. Mereka masih benar-benar menghantuiku dan entah kapan aku bisa kembali dengan tenang dari itu.
Cinta, aku yakin masa depanmu lebih cerah dariku. Bersamaan surat ini, aku kirimkan sebuah alat bernama “Inertia”. Iya, seperti yang tertera di Hukum Newton yang kamu agungkan dulu. Aku masih ingat betapa kamu dulunya mengagumi Ilmu Fisika meski akhirnya harus terjebak di dunia Kedokteran. Kan, kita pertama kali kenal saat kamu masih berkutat dengan rumus Fisika, kan? Bahkan, kamu pernah gombali aku pakai Hukum Termodinamika. Udahlah, aku lupa itu.
Cinta, terima kasih untuk segala pertemuan ini.
Semoga alat ini membuatmu menjadi lebih baik lagi.
Sampai ketemu lagi di lain waktu.
Cinta terjauhmu,


Nanako Yamashita

Aku pun belum tahu fungsi alat itu seperti apa. Aku coba buka lembaran “Inersia” satu-persatu.

OoOoOoOoOoO

INERTIA
“Bagaimana jika kamu bisa kembali sebentar ke masa lalumu?”
Masa lalu memang adalah tempat terjauh di muka bumi ini. Kita tidak bisa mencapainya, bahkan alat sekeren apapun juga belum mampu untuk mencapai tempat itu. Alat ini pun juga.
Namun, alat ini hanya mengajakmu kembali sejenak, mengunjungi beberapa kepingan masa lalu yang kelam. Tujuannya hanyalah untuk melihat apa yang terjadi misalnya kamu melakukan yang awalnya kamu tidak lakukan, ataupun sebaliknya.
Alat ini tidak dijual secara bebas. Dan, hanya berlaku untuk satu kali putaran mainan saja.
Selamat bermain! Namun, ingat, keselamatan sangatlah penting!

Dibawah surat itu, mulai muncul pesan tertulis dari Nanako sendiri.

Gani, aku sudah atur bagian masa lalu apa yang akan jadi bahan bagi alat “Inertia” ini. Untungnya, alat ini bisa menangkap beberapa waktu dan poin tertentu yang ada saat bagian tersebut terjadi. Aku tidak tahu lebih jauh, alat ini jago sekali!
Ikuti petunjuk yang ada di game tersebut. Selamat bermain, Cinta!

Aku pun mengikuti petunjuk yang ada, termasuk cara pemakaian dan penempelan beberapa kabel yang cukup ribet. Harus sesuai dengan pola anatomi tubuh ini, ada yang dipasang di jantung, ada yang dipasang di sisi-sisi otak, ada juga yang dipasang di kaki dan tangan. Penggunaan alat ini juga harus dalam posisi duduk, dengan tangan dan kaki yang digerakkan dari sensor. Semoga alat ini berhasil dan berguna, kelak. Amin!
Nah, kabel semua terpasang rapi. Sudah saatnya, aku kemudian hidupkan “Inertia”. Dalam layar kacamata VR tadi, tercantum pesan lagi.

Selamat datang di INERTIA.
Sebuah permainan tentang keputusan dalam tindakan.
Kamu akan kembali mengunjungi bagian kelam dari masa lalu. Kami telah membagikan semuanya dalam beberapa station. Station ini memiliki skenario masing-masing, dimana keputusan dan tindakan ada di tanganmu sendiri.
Apakah kamu akan bertindak atau malah membiarkannya?
Semua ada di tanganmu.
Kamu sudah siap?
YA / TIDAK.

PERINGATAN : Kamu hanya bisa meninggalkan permainan ini sejenak setelah menamatkan satu station. Tidak boleh ditinggalkan selama station yang dimainkan belum selesai.

Bismillah, sudah saatnya aku untuk kembali mengunjungi masa lalu. Doakan aku, Nanako!












Jumpa lagi di Agustus 2019! 

Comments

  1. Whoa, is it a kind of new project you currently worked on, kak? Saya sekilas lihat di IG tentang Game Inersia untuk mengunjugi masa lalu, rilis agustus ini ya? Penasaran juga :D

    ReplyDelete
  2. Cinta terjauh itu, baper banget. Penasaran nunggu lanjutannya.. mauuu

    ReplyDelete
  3. Aku nanti kalau ke Jepeng pengen ketemu Nanako ah....
    Habis penasaran aku, kayaknya real ini yang namanya Nanako

    ReplyDelete
  4. Wow, penasaran banget sama inersia game, bisa kembali ke masa lalu, biar bisa memperbaiki rasa penyesalan

    ReplyDelete
  5. Duhh kok lama banget sih... Aku jadi penasaran hasilnya permainan inertia apakah akan berakhir dengan sukses? Jangan lupa dilanjutkan yaaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. by the end of the book, i'll leave that to your interpretation.

      Delete
  6. Andai ada alat kyk gtu. Aku pun kepengen kembali ke masa lalu dan mengubah beberapa hal yang kurasa gak pas dan mungkin kalau dulu aku lakukan ada hal2 yang gak akan aku sesali. Tapiii kyknya gak ada ya di dunia nyata. Manusia cuma bisa move on sembari sesekali melihat ke masa lalu supaya gak mengulangi kesalahan yg sama....

    ReplyDelete
  7. Mungkin utnuk beberapa paragraf yang biasa, lebih aik diberi rata kiri-kanan kali ya, agar lebih comfortable bacanya.

    ReplyDelete
  8. Aku jadi ingat novelnya Tere Liye yang Hujan ga siih...?
    Alat-alat dan dipasang di otak.
    Tapi kalau Inertia Games dipasang di mana saja kabelnya?

    ReplyDelete

Post a Comment

Terimakasih telah mengunjungi blog pribadi saya. Jika suka, jangan sungkan-sungkan lho untuk berkomentar. Salam kenal!

Popular posts from this blog

Nge-Diss dalam Hip-Hop (#PikiranGue Ep. 1)

Apakah Eminem Layak Menjadi "King Of Hip Hop"?

Reject, Respect, React (#PikiranGue Ep. 3)