Posts

Showing posts from 2019

sebuah reuni | tempat aku menangis

Image
Ini adalah bagian 2 dari mini-novel "sebuah reuni".

Cinta, kamu pastinya paham sudah berapa banyak air mata yang harus menetes
Dan, hari ini, aku harus bertemu lagi denganmu. Entah apakah air mata ini bisa bertahan lebih lama lagi jika melihatmu hidup kembali.
Setelah beristirahat seharian, aku kembali menjalani sebuah kegiatan rutin saat libur jaga ini. Aku akan pergi bertemu Pak Yusuf, seorang yang bisa dibilang ahli dalam dunia yang berkaitan dengan pikiran manusia. Beliau sendiri bisa dibilang harus drop out saat mencoba kuliah Kedokteran. Namun, ketertarikannya dalam dunia Psikiatri membuatnya tertarik untuk mempelajari tentang apa yang sebenarnya bermain-main dalam perangkat pikiran manusia ini. Hal itu juga yang membuatnya disegani di kota ini.
Aku dikenalkan kepada Pak Yusuf oleh Bang Niko saat bercengkrama di sebuah warung makan Padang yang dia dirikan di kota ini. Untung saja, warung makan ini terletak di dekat kost. Jika tidak, mungkin aku akan malas datang ke sana.…

sebuah reuni | mimpi tentangmu

Image
ICU, April 2019
“Dok, kayaknya tadi sampean mimpi indah, deh. Pake ngigau segala, lho! Wis jatuh cinta, tah sampean? Ciyeeee. Hahaha.”
Omongan dari Mas Aldi di jam Subuh itu membuatku bergidik malu. Mimpi yang terjadi semalam itu memang sangat indah sekali. Aku bahkan sampai bingung gimana cara untuk merespon perkataan itu. Sembari itu, Mas Aldi l angsung bergegas ke pasien untuk memantau kondisi pagi ini. Suasana di ruangan ICU hari ini sangatlah aman. Jumlah pasien hari ini hanya satu dan untungnya, kondisinya hari ini relatif stabil. Begitu juga yang terjadi di bangsal lain, tidak ada panggilan kegawatan atau semacamnya. Paling hanya jam 10 malam kemarin, saat aku diminta untuk menulis resep di Bangsal Dewasa.
Tak terasa, sudah hampir dua bulan aku menjalani tugas sebagai dokter internship di Rumah Sakit (RS) ini. Meskipun baru menjalani stase ruangan, namun entah kenapa aku merasa bahwa RS ini cukup membuatku nyaman. Perawat yang ramah dan kompak serta jumlah pasien yang tidak terlal…

Cerpen | Lamunan Tentang Dia yang Belum Datang

Image
“Eh, Lewis, kamu coba deh besok ke Posei City Mall deh. Katanya mau ada semacam pameran pernikahan gitu. Bisa dicek harga venue atau foto pre-wedding di sana.”
Siang hari di Kafe Sikho ini tiba-tiba dipenuhi dengan bahasan akan pernikahan. Kafe ini sering menjadi tempat nongkrong bagi kami, enam dokter baru yang ditugaskan di Kota Arlegnon. Ditemani dengan lagu yang mendayun, kami selalu memesan berbagai minuman yang disajikan. Kala itu, yang berkumpul hanya empat saja. Aku, Lewis, Mona dan Tera. Lewis akhir-akhir ini memang sering cerita ke kami akan betapa sibuknya dia dalam merencanakan pernikahan. Padahal, dia sendiri baru akan menikah tahun depan. Tapi, sudah persiapkan matang-matang dari sekarang. Dia benar-benar diminta sama keluarga kedua belah pihak untuk persiapkan pernikahan yang matang dan berkesan, mulai dari tempat yang nyaman, makanan yang enak, bahkan foto pre-wedding yang sangat mantap!
Memang, gedung-gedung di kota Posei selalu penuh dengan berbagai acara, terutama unt…

Jangan Kau Pergi! (Cegah Bunuh Diri)

Image
"Taruh pisaunya di bawah, Gisca!"
Suara bak gemuruh itu datang dari sebelah kanan Gisca. Itu datang dari Morin, temannya yang saat itu sedang berada di kamarnya. Tepat dua bulan sudah peristiwa mencekam itu. Kisah cintanya yang indah dengan Fritz harus kandas karena godaan yang kuat untuk menikahi Clara, si cewek yang sekarang menjadi dokter terkenal di kota Arlegnone.
Dia selalu merasa hanya dijadikan objek pemuas belaka oleh Fritz. Sudah hampir seluruh badannya dia berikan kepada Fritz. Sekarang, penyesalan yang didapatkan. Dia tidak tahu apa yang harus dia perbuat lagi. Baginya, solusi terbaik adalah mengakhiri hidupnya. Morin, teman baiknya sejak SD pun selalu mengingatkan akan risiko yang mungkin terjadi dengan Fritz.
Morin sendiri adalah anak yang religius. Dia taat beribadah dan sangat cerdas di sekolahnya. Sekarang, dia mengabdikan diri untuk mengajar di kota Arlegnone. Baginya, mendidik adalah tujuan utama hidupnya. Benar-benar definisi cewek yang sempurna. Dulu, Morin…

Migrain Tidaklah Tentang Nyeri Kepala Sebelah | Dokter Foramen

Image
Kata migrain tentu saja akrab di telinga setiap orang, terutama yang setidaknya pernah menonton iklan di televisi. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan migrain sebagai “sakit kepala yang disertai rasa nyeri berdenyut pada satu sisi saja dan timbul dalam bentuk serangan”. Begitu juga dengan bagaimana masyarakat mendefinisikan tentang migrain itu. Padahal, migrain tidak selalu tentang nyeri kepala sebelah.
Seperti yang diketahui, International Headache Society (IHS) (1988) membagi nyeri kepala menjadi berbagai macam jenis. Migrain tentu saja salah satunya. Pembagian ini juga dilakukan melihat banyak hal, bisa dari jenis nyeri, lama nyeri, atau gejala penyerta yang dirasakan. IHS sendiri memberikan kriteria khusus untuk menyatakan bahwa nyeri kepala tersebut adalah jenis migraine, yaitu:
A.Minimal mengalami LIMA (5) kali nyeri kepala yang berlangsung selama 4-72 jam, dengan minimal DUA dari EMPAT karakteristik berikut:
a.Lokasi unilateral (nyeri di sebelah) b.Nyeri bersifat ber…

Cerpen | Tombol Kembali

Image
Cerita tentang masa lalu memang tidaklah menyenangkan. Ah, mungkin sudah saatnya mencari pelarian. Akhir-akhir ini, aku sering ke warung kopi untuk sekedar menenangkan diri. Masa tugas wajibnya di Gresik lah yang menjadikan itu kebiasaan untuknya. Aku sudah mulai akrab dengan sensasi pusing setelah minum segelas.
Sembari mengerjakan tugas laporan kerja, gawaiku pun berdering. Ada pesan singkat dari seorang teman. Saat dibuka, muncul dari Siwi, teman kelompok saat koass dulu. Kami akrab sekali karena jarak absen kami berdekatan. Kami sering bertukar cerita tentang apapun. Tentang permasalahan selama koass, tentang keluhan di tempat tertentu, bahkan sampai tentang cinta. Ya, kita hanya sebatas teman, kok. Tidak ada pikiran untuk menjauh, berhubung Siwi sendiri lebih tua dariku.
“Halo, Gani! Gimana kabarnya di sana?”
Dari pesan itu pun, aku mulai kembali merajut tali silaturahmi yang sempat putus karena jarak. Ya, memang kami sempat membenci di stase-stase awal. Itu terjadi karena kebodohan…