Posts

sebuah reuni | reuni yang sebenarnya

Image
"Gan, kamu nanti masuk siang kan?" "Iya, Ra. Kenapa emangnya?" "Ada pasien di ruangan Mekah nyariin kamu. Namanya Pak Yusuf kayaknya. Sudah tua, entahlah gimana ceritanya. Kalau bisa, datang ke sini segera, ya." "Baiklah, nanti aku ke sana. Ini aku mau siap-siap dulu." OoOoOoOoOoO Setelah beberapa hari tidak mendengar sepucuk kabar dari Pak Yusuf, tiba-tiba aku mendengar kabar tentangnya dari Lara, teman kelompok jaga selama menjalani internship di sini. Aku dapat kabar itu pada jam 11 siang, di saat bangun tidur setelah sebelumnya menjalani sesi jaga malam di bangsal dengan pasien yang relatif aman. Di ruangan ICU sendiri, pasien hanya ada satu dan kondisinya sudah stabil. Rencana akan dipindahkan ke ruangan rawat inap biasa. Aku sendiri sudah tahu sejak sesi audio kemarin itu bahwa kondisi kesehatan Pak Yusuf sudah memburuk. Namun, aku tidak menyangka bahwa beliau akan dirawat ke rumah sakit ini. Mengingat tempat ini yang teramat jauh dari rum…

sebuah reuni | detik-detik terakhirmu

Image
Ini adalah bagian ketiga dari mini-novel berjudul "sebuah reuni". Dua bagian pertama bisa dibaca di sini.
Bagian 1 : mimpi tentangmu
Bagian 2 : tempat aku menangis

-------------------------------------------------------------------------------------------------
"Cinta, aku memang tinggal sendiri. Meskipun itu, aku lebih nyaman di sini daripada di sana. Tentu saja, aku tidak akan ketemu dengan pria brengsek itu lagi selamanya. Tapi, entah kenapa, aku membutuhkan seorang teman, maukah kamu menemaniku di sini? Setiap detik. Setiap menit. Setiap jam. Kamu juga tentunya pasti bosan dengan dunia tempatmu itu. Jaga di ruangan para pesakitan yang hanya berdiri di perbatasan antara hidup dan mati. Iya kan? Cinta, mari kita menjalani hidup bersama untuk pertama dan terakhir kalinya. Itu yang kamu inginkan, bukan? Aku bahkan masih mencintaimu hingga sekarang ini." Sontak, aku kembali terbangun dari mimpi yang benar-benar membingungkan itu. Entah kenapa, tema yang ada dari mimpi mi…

sebuah reuni | tempat aku menangis

Image
Ini adalah bagian 2 dari mini-novel "sebuah reuni".

Cinta, kamu pastinya paham sudah berapa banyak air mata yang harus menetes
Dan, hari ini, aku harus bertemu lagi denganmu. Entah apakah air mata ini bisa bertahan lebih lama lagi jika melihatmu hidup kembali.
Setelah beristirahat seharian, aku kembali menjalani sebuah kegiatan rutin saat libur jaga ini. Aku akan pergi bertemu Pak Yusuf, seorang yang bisa dibilang ahli dalam dunia yang berkaitan dengan pikiran manusia. Beliau sendiri bisa dibilang harus drop out saat mencoba kuliah Kedokteran. Namun, ketertarikannya dalam dunia Psikiatri membuatnya tertarik untuk mempelajari tentang apa yang sebenarnya bermain-main dalam perangkat pikiran manusia ini. Hal itu juga yang membuatnya disegani di kota ini.
Aku dikenalkan kepada Pak Yusuf oleh Bang Niko saat bercengkrama di sebuah warung makan Padang yang dia dirikan di kota ini. Untung saja, warung makan ini terletak di dekat kost. Jika tidak, mungkin aku akan malas datang ke sana.…

sebuah reuni | mimpi tentangmu

Image
ICU, April 2019
“Dok, kayaknya tadi sampean mimpi indah, deh. Pake ngigau segala, lho! Wis jatuh cinta, tah sampean? Ciyeeee. Hahaha.”
Omongan dari Mas Aldi di jam Subuh itu membuatku bergidik malu. Mimpi yang terjadi semalam itu memang sangat indah sekali. Aku bahkan sampai bingung gimana cara untuk merespon perkataan itu. Sembari itu, Mas Aldi l angsung bergegas ke pasien untuk memantau kondisi pagi ini. Suasana di ruangan ICU hari ini sangatlah aman. Jumlah pasien hari ini hanya satu dan untungnya, kondisinya hari ini relatif stabil. Begitu juga yang terjadi di bangsal lain, tidak ada panggilan kegawatan atau semacamnya. Paling hanya jam 10 malam kemarin, saat aku diminta untuk menulis resep di Bangsal Dewasa.
Tak terasa, sudah hampir dua bulan aku menjalani tugas sebagai dokter internship di Rumah Sakit (RS) ini. Meskipun baru menjalani stase ruangan, namun entah kenapa aku merasa bahwa RS ini cukup membuatku nyaman. Perawat yang ramah dan kompak serta jumlah pasien yang tidak terlal…