Inersia: Sebuah Cerita Tentang Kegagalan

17 Maret 2018, 9:13 p.m (GMT+7)

"Kalian itu cuma jago doang bikin anak, tapi susah ngebesarinnya. Lihat aja, pasti besarnya dia ga bakalan jago dalam berhitung."

Pernyataan tersebut dikatakan oleh seorang dokter spesialis Saraf ketika aku berumur 2 tahun. Waktu itu, orang tua aku membawaku ke sana karena statusnya yang sudah mencapai Professor dan sudah disegani se-kota Padang. Aku dibawa karena di saat usiaku sudah menginjak 2 tahun, aku hanya bisa berkata satu suku kata, seperti "Pa" atau "Ma". Belum bisa berkata satu ataupun dua kata seperti "Minta Makan" ataupun "Mau Tidur" yang harusnya menurut KPSP (sebuah kuesioner perkembangan anak di Indonesia, serupa Denver Test) sudah masuk dalam kategori terlambat terutama dari segi kemampuan bicara. Meskipun, untuk menentukan bahwa anak tersebut memiliki keterlambatan dalam perkembangan, masih perlu ditanyakan beberapa isi kuesioner lainnya, baik itu dari segi motorik kasar, halus dan lainnya. Pernyataan itu sendiri memang disimpulkan Dokter setelah melakukan beberapa pemeriksaan medis, sehingga memang cukup kredibel mengingat statusnya yang sudah merupakan Professor kala itu.

Mendengar pernyataan tersebut tentu membuat kedua orangtuaku bersedih dan tertanam juga rasa kesal dalam dirinya. Namun, di balik kedua rasa tersebut, tertanam rasa semangat di antara mereka untuk membuktikan kesalahan dokter itu. Akhirnya, mereka tetap berdo'a kepada Allah swt supaya kelak aku waktu itu dapat bicara, dan tiba-tiba, ketika aku dibawa ke sebuah Rumah Sakit, keajaiban pun datang dan aku pun langsung bicara "Ma, sakit ma!". Semua anggota keluarga yang turut mendampingi ketika itu terhenyak akan suara itu dan langsung mengucap syukur sejenak karena aku bisa berbicara.

Beberapa saat setelahnya, aku pun mulai diajari beberapa bidang ilmu seperti menghitung dan membaca. Dan, seketika waktu SD saja, aku sudah termasuk orang yang jago dalam pelajaran Matematika, bahkan sempat ada wacana ketika aku SD di sebuah daerah di Provinsi Riau utnuk mengirimkan aku ke Olimpiade Matematika tingkat Kabupaten, namun wacana tetaplah wacana. Karena, masalah dengan akses dan birokrasi yang kurang baik, sekolahku tidak mengirimkan aku untuk kompetisi tersebut. Padahal, sudah ada persiapan bahkan dari guru Matematika waktu SD dengan memberikanku PR khusus. Masalah itu juga yang membuat orangtuaku memutuskan untuk memindahkan sekolahku ke Kota Padang, Sumatera Barat.

"Kenapa Bapak harus mengirimkan Farhan sebagai perwakilan sekolah, kenapa ga si Dedi aja (nama disamarkan) yang berstatus sebagai Juara Umum di sekolah kita? Farhan itu anak mami dia, takut ada masalah entar dengan sekolah kita. Gimana ntar?"

Pernyataan ini disampaikan oleh hampir seluruh guru di SMP aku waktu guru Fisika aku, Pak Nadir Hasra, memutuskan untuk mengirimkan aku sebagai perwakilan sekolah untuk Seleksi Program Pembinaan Olimpiade Sains cabang Fisika untuk siswa SMP se-Sumatera Barat yang diselenggarakan oleh Universitas Andalas (UNAND) di kota Padang. Banyak guru yang menyayangkan kenapa harus aku yang dikirimkan ketika itu, karena beberapa hal, terutama jika melihat di atas kertas, memang Dedi ini jauh lebih pintar dan tentu saja memperoleh Juara Umum untuk kelas aku waktu itu, sedangkan aku hanya sukses menyabet Juara Kelas ketika itu. Banyak juga yang menyatakan bahwa aku tidak akan bisa bergerak hingga level yang sangat tinggi. Namun, pernyataan tersebut tidak membuat Pak Nadir patah arang. Didukung oleh wali kelasku ketika itu, Bu Murti Roza, beliau memutuskan untuk tetap mengirimkan aku untuk menjalankan seleksi tersebut.

Tanpa disangka, aku pun lolos seleksi dan berhak untuk menjalani Program Pembinaan UNAND tersebut dan selama program tersebut berlanjut, aku pun mulai menunjukkan peningkatan dalam beberapa tes dan pembinaan. Hingga ujung-ujungnya, aku pun mengikuti seleksi Olimpiade Sains Tingkat Kota dan berhasil lolos dalam seleksi tersebut, dan sempat pada tahun 2007, menjadi satu-satunya perwakilan dari Sumatera Barat untuk mengikuti Olimpiade Sains Nasional bidang Fisika tingkat SMP di Surabaya. Ya, karena sifat optimisme berlebihan yang aku punya yang bisa disebabkan oleh kebanyakan hype, aku pun harus pulang tanpa membawa medali apapun. Aku sempat bersedih ketika itu, meskipun ketika itu, aku masih berstatus sebagai kelas 2 SMP. Sehingga, Pak Nadir ketika itu menyemangati dan berpesan masih ada satu tahun lagi bagiku untuk mencapai medali di OSN.

Dengan melalui cerita yang hampir serupa, waktu itu aku sempat berpikir untuk keluar karena nilai yang sempat jeblok akibat lupa membagi waktu antara Olimpiade dan sekolah. Meskipun itu, Ibu Kepala Sekolah meminta aku untuk kembali coba lagi di ajang Olimpiade Sains Nasional, hingga akhirnya aku setuju untuk mengulangi proses itu lagi, belajar dari segala kesalahan yang diperbuat tahun lalu, dan akhirnya aku pun memperoleh kesempatan itu lagi ketika dinyatakan lolos untuk mengikuti ajang OSN tahun 2008 di Makassar. Kesempatan itu pun terulang dan aku senang karena akhirnya pulang dengan membawa medali Perak. Meskipun, tidak sesuai target kala itu, namun aku sudah puas dengan kesuksesan tersebut.


Perjuangan tersebut terulang kembali ketika aku melanjutkan pendidikan di SMA di Tangerang Selatan dan setelah menjalani berbagai macam pelatihan sampai harus melakukan beberapa kesalahan dalam hidupku, aku pun berhasil mendulang medali Perak lagi di OSN Fisika tingkat SMA tahun 2011 di Manado. Begitu juga di saat aku melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran UGM, ada beberapa orang yang meremehkan aku dan menganggap bahwa aku tidak bisa apa-apa untuk bertahan. Memang, di masa itu, aku juga sempat merasakan down meskipun ujungnya aku berhasil lolos dengan nilai yang memuaskan dan memperoleh gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked)


-----------------------------------------------


Sayangnya, kesuksesan untuk melawan segala caci maki baik itu semenjak aku kecil hingga aku berhasil diwisuda dan memperoleh gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked) seolah-olah tidak berlanjut di saat aku menjalani koass yang merupakan langkah terakhir bagi setiap mahasiswa kedokteran. Ya, setidaknya untuk sekarang ini, aku merasa bahwa orang-orang mungkin akan menganggap aku adalah orang yang gagal dan tidak layak untuk menjadi seorang dokter. Bagiku, hal ini bukanlah sebuah anggapan belaka. Ini mungkin akan jadi kenyataan, dan semua itu berawal dari ujian di salah satu departemen.

Jadi, di departemen tersebut (sebut saja departemen X), sistem ujiannya adalah dimana satu koass akan dihadapkan ke satu penguji dengan menggunakan sistem undian. Dan, sialnya, aku harus ujian dengan seorang staff yang memang terkenal perfeksionis bukan bagi kalangan koass, namun juga kalangan residen di departemen tersebut. Beliau benar-benar menuntut pemeriksaan yang sempurna, tidak ada salah sedikitpun, bahkan saat ujian, beliau menuntutku untuk menyiapkan segala macam alat yang diperlukan. Tentunya, ketika aku mendapatkan surat pengantar tersebut, aku langsung panik dan bingung harus bagaimana, apalagi departemen tersebut adalah departemen yang sebenarnya aku kurang suka karena ilmunya yang kompleks dan pemeriksaannya yang sangat banyak, secara aku bukanlah orang yang prosedural. Sampai sekarang, aku masih tidak ingin ambil spesialis Bedah ataupun Anestesi yang semuanya serba tindakan.

Ketika ujian tersebut dimulai, aku disuruh memeriksa pasien dan beliau memberikan batasan waktu tertentu. Aku dituntut untuk menelusuri masalah dan keluhan pasien, kemudian mengarahkan ke diagnosis tertentu dan melakukan pemeriksaan fisik. Selama tiga kali aku harus ujian dengan beliau, pasti beliau menemukan kesalahan sekecil apapun. Bahkan, meskipun aku melakukan sedikit modifikasi, beliau pun tidak menerima itu dan menuntut aku untuk melakukan apa yang sudah diterapkan di buku pelajaran tersebut. Benar-benar dipaksa untuk perfeksionis, dan sayangnya jika feedbacknya itu diberikan dengan intonasi yang lembut dan menyemangati itu aku tidak akan mempermasalahkannya. Sayangnya, selama sesi feedback itu, beliau hanyalah marah dan marah. Hal itu sontak membuatku terpuruk, dan di sesi terakhir, aku pun dituduh mengalami kecemasan yang parah setiap ujian. Sehingga, setelah sesi ketiga, aku pun disuruh untuk introspeksi diri lagi dan mengukur tingkat kecemasan aku ketika itu.

Setelah memperoleh itu, aku pun memutuskan untuk berdiam diri terlebih dahulu dan mencari segala kesalahanku serta mencari jawaban atas pertanyaan yang menusukku setiap selesai ujian dengan dokter tersebut.

"Apakah memang aku layak jadi dokter atau tidak? Jika iya, ke arah mana harus aku berlabuh? Jika tidak, apa yang cocok bagiku?"

Aku pun akhirnya berpikir bahwa mungkin akan cocok jika aku meninggalkan segala kepahitan yang aku alami sampai pernah terpikir untuk bunuh diri waktu itu. Dan, mencoba mencari jawaban tersebut. Beliau juga bilang bahwa kalau aku terus-terusan panik dalam menghadapi pasien, tanya sering belepotan, periksa pasien sering keringetan, gimana pasien akan berpikir menghadapi itu. Aku pun tetap melanjutkan koass sampai aku menemukan jawaban dari segala pertanyaan tersebut. Namun, bukannya jawaban yang aku dapatkan melainkan berbagai sindiran dan ejekan yang aku terima. Ada yang pernah bilang di depanku bahwa aku orang yang paling tidak berguna di kelompok koass tersebut bahkan pernah di sebuah stase, ada teman yang bilang kayak gini,

"Kalaupun kamu cowok satu-satunya di dunia ini, aku akan tetap menjomblo. Benci banget aku sama kamu. Sumpah deh!"

Memang, aku percaya karma memang berlaku, tapi jujur aku juga mungkin akan berkata yang sama terhadap cewek yang menurutku punya perilaku yang lebih buruk dari pelacur yang sempat aku kenal di warung dekat rumah. Ya, dia orang yang sering mengeluh dan menurutku, memang orangnya jelek dan aku berdo'a kelak tidak akan bertemu orang seperti dia lagi dalam hidupku. Tapi, bukan hanya dari dia saja, masih ada yang menganggapku tidak berguna dan tidak akan sukses dalam hidupku.

Jika orangtuaku mendengarkan hal tersebut, mungkin mereka akan marah dan membelaku, tapi tentu saja ujungnya akan pahit dan aku akan semakin dikucilkan dari orang-orang yang dimana aku harus menjalani kegiatan bersama selama sekitar 2 tahun. Itulah kenapa aku tidak ingin mengenalkan mereka yang sebagian besar memberikan pikiran negatif bagiku ke orangtuaku. Mungkin, pasti ada yang akan berpikiran negatif lagi kelak. Entah itu, orang-orang itu atau orangtuaku. Namun, pengalaman buruk yang mereka berikan ini juga membawaku stress dan berpikir seperti ini,

"Mungkin jika aku mati, mereka akan lebih senang dan bahagia, toh aku hanya membawa pengaruh buruk bagi mereka. Aku kan bodoh bagi mereka."

Pernyataan itu juga yang membuatku tidak semangat lagi dalam menjalankan kegiatan perkoasan, entah kenapa sebelum kegiatan bersama mereka, aku hanya merasa tidak berguna dan tidak perlu bagiku untuk berada di sana. Kepikiran bagiku untuk pindah kelompok, namun apa daya, aku trauma dengan kejadian waktu SMA itu, dimana aku memutuskan untuk pindah kelas karena merasa kurang nyaman dengan teman-teman. Yang terjadi justru malah sebaliknya, mereka malah semakin mengucilkanku dan ujung-ujungnya, aku mulai menyesal akan keputusan tersebut. Aku pun memutuskan untuk bertahan meskipun itu dalam keadaan terpaksa sembari mengharap kelak akan ada hari yang cerah untukku. Namun, sampai detik tulisan ini dibuat, aku tidak menemukan hari yang cerah itu, dan itu juga yang membuatku lupa akan kewajibanku menyelesaikan tugas dari penguji stase X itu.

Bayangkan, tugas itu pun harus aku tunda selama setahun hanya karena aku belum menemukan jawaban atas pertanyaan tadi. Dan, ketika aku sudah menjalankan stase terakhir koass, aku yang masih belum menemukan jawaban tadi, akhirnya memaksakan diri untuk menghadapi penguji tadi dengan putus asa dan harapan bahwa semoga hati beliau akan berubah dan tidak mempermasalahkan hal itu, dan meloloskan ujian tersebut. Aku pun mengerjakan tugas yang diminta beliau meskipun itu aku lakukan secara terpaksa, dan aku mencoba untuk melakukan janjian untuk bertemu beliau. Ya, janjian itu juga disertai dengan rasa panik yang melanda mengharap semoga Allah akan menyelesaikan semuanya tanpa ada rasa luka lagi.

--------------------------------------------------------

Hari H pun tiba, aku pun menunggu di poliklinik X untuk bertemu beliau. Dan, tak disangka, pertemuan dengan beliau tersebut tidaklah berakhir seperti apa yang diharapkan, melainkan sebaliknya. Aku pun dimarahi habis-habisan karena terlambat mengumpulkan tugas dan beliau menawarkan skenario untuk ujian ulang. Beliau juga menjelaskan banyak hal tentu dengan nada yang tinggi, seperti masalah-masalah yang dialami koass dan masih banyak lagi. Mungkin, jika aku harus mengingat raut mukanya ketika itu, aku pastinya muak membayangkannya. Dan, di akhir, beliau mengantarkanku untuk bertemu dengan seorang residen (mahasiswa yang mengambil program spesialis) di bagian X untuk dilakukan tes kejiwaan. Beliau ingin tau seberapa parahnya tingkat kecemasan yang aku alami begitu juga dengan depresi. Akhirnya, residen tersebut menenangkanku dan menanyakan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan cemas dan depresi. Dan, dari pertanyaan tersebut, disimpulkan bahwa tingkat cemas dan depresi yang aku alami lumayan parah. Ketika residen tersebut melaporkan hasilnya ke penguji aku tadi, beliau menyatakan akan merapatkan dulu tentang bagaimana kelak ke depannya.

Sebenarnya, selama satu tahun ini, aku sudah mencoba untuk mencari masalahku sendiri, dan berkonsultasi dengan psikiater. Dari diskusi yang kami lakukan, ternyata aku didiagnosis mengalami Distimia (Persistent Depressive Disorder), dan juga ditambah aku yang sampai sekarang ini punya pikiran untuk bunuh diri. Akhirnya, beliau memberikan aku obat berupa escitalopram (golongan SSRI) yang dikonsumsi sekali sehari dengan dosis setengah tablet, atas pertimbangan pikiran bunuh diri tersebut. Aku pun langsung mencari penyebab kenapa aku mengalami hal buruk seperti itu, dan setelah mencari jurnal, aku pun menemukan bahwa kecanduan pornografi dapat menjadi penyebabnya.

Ya, meskipun pada bulan Maret 2017 ini aku berhasil merilis buku berjudul "Ketika Di Dalam Penjara" yang membahas tentang kecanduan pornografi, namun aku sendiri masih sering mengakses pornografi. Bisa dibilang terakhir kali aku relaps (nonton lagi) itu malah hari Sabtu (17/3) siang ini. Dan, hal ini aku alami bukan hanya sekali, bahkan bisa dibilang berkali-kali lamanya. Sempat terjadi waktu itu, saking bosannya aku pernah nonton video porno tiga kali dalam sehari! Tentu, bagi seorang yang pernah baca buku aku, aku dianggap adalah orang yang munafik. Namun, aku tidak peduli! Kalian bebas memanggilku apa, karena untuk tulisan ini, aku hanya ingin jujur bercerita ke kalian semua.


-----------------------------------

Kembali ke masalahku di stase X, setelah kejadian tersebut, aku pun menyadari tentang kata Inersia, sebuah kata yang mewakili pernyataan Newton dalam karangan klasiknya berjudul "Law of Motion", dimana disebutkan dalam poin pertamanya bahwa

"Sebuah benda akan tetap diam atau bergerak dengan kecepatan tetap, hingga ada gaya yang bekerja padanya."

Dari sini pun, aku menyadari bahwa sudah saatnya keputusanku untuk mencari jawaban atas segala keluh kesahku tentang profesi dokter selama ini adalah keputusan yang salah. Aku hanyalah diam dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan, ini juga yang mempengaruhi semua kegiatan koassku, nilai sempat berantakan dan semangat pun mulai menurun, begitu juga dengan semangat menulisku, meski pernah suatu hari, aku ditawarkan untuk menulis iklan produk kesehatan. Namun, tawaran itu tidak aku anggap serius dan aku pun menyesal atas apa yang telah aku lakukan. Ya, aku menyesal karena aku hanya berdiam diri menanti sebuah jawaban yang muncul padaku. Sudah saatnya, aku bergerak aktif mencari jawaban tidak hanya menunggu jawaban itu datang.

Memang, mungkin semuanya sudah terlambat, terutama melihat teman-teman yang aku kenal baik sudah membagi cerita mereka yang sukses menempuh UKMPPD, semacam Uji Kompetensi untuk memperoleh gelar Dokter (dr.), dan aku mungkin harus menerima diriku tidak akan lolos bareng teman-teman yang sebelumnya meremehkanku. Aku harus menunggu hingga penguji di stase X memberikan kejelasan tentang apa hasil rapat yang mereka lakukan itu, dan mungkin bisa aja aku mesti mengulang di stase tersebut selama seminggu atau apapun itu yang terjadu. Aku harus menerima semuanya. Ya, ini adalah kesalahanku, dan aku sudah siap menerima semua akibatnya.

Take it like a man!

Lagian, aku percaya pesan salah satu dokter pembimbing aku di stase IPD, setiap orang pasti dilahirkan dengan tujuannya masing-masing. Aku percaya bahwa semuanya akan berakhir, dan mungkin jika aku sudah selesai, ini akan menjadi bagian tak terlupakan dari beberapa tahun aku hidup nanti. Akan aku ceritakan semuanya ke anak-anakku kelak supaya mereka memahami tentang apa itu perjuangan hidup.

Dan, dari semua ini aku belajar bahwa sudah saatnya aku untuk bergerak sendiri melawan dunia, menjadi motor dari semuanya, tidak lagi tergantung kepada orang tua ataupun keluarga lagi, mungkin aku masih butuh saran dari mereka, tapi ke depannya, semua keputusan akan ada di tanganku. Sudah layak aku berpikir sebagaimana mestinya, sudah saatnya aku lawan semua pikiran negatif yang ada di otak ini.

Mungkin, bagi mereka yang pernah mengejekku, menghinaku atau menganggapku rendah, aku sudah kalah dalam perjuangan hidup. Ah, terkadang kita harus kalah dulu untuk memahami rumus-rumus kemenangan. Iya kan? Terkadang, kekalahan sendiri membuat kita tumbuh, kok.

Bismillah, aku akan menjadikan tahun ini sebagai titik nol dimana aku mulai bergerak dinamis mencapai tujuan hidupku. Aku sudah cukup menentukan mau kemana aku akan berkarir, kedua orang tua juga sudah mendukung keputusanku ketika aku membicarakan hal tersebut.

Menjadi pengajar, penulis dan ahli forensik.

Sudah saatnya, aku tanggung semua resiko yang ada dan berpikir positif untuk hal tersebut.
Sudah saatnya, aku tata kembali semua kehidupan dengan berkaca terhadap apa yang terjadi sebelumnya, dan mengambil serta membuangnya and then, change myself!

Bismillah. It's time to prove them wrong again!
Everything is already clear to me, it is time to move forward!




Comments

  1. Sedih baca kisahmu. Biarlah apa yg dikatakan orng berlalu ttap jadikan semnagat unuk terus maju dan tetap menjalani hidupmu dengan indah. Pikiran negatif itu memang berbahaya kalau kita tdk bs mengontrolnya. Bisa2 malah berdampak buruk sama psikis kita nantinya. Yuks ah tetap semangat meskipun banyak ujian cobaan menghadang.

    ReplyDelete
  2. Jujur naluri menolak keras dengan cara berpikirmu dalam tulisan ini. Apalagi sampai-sampai ada rencana Bunuh Diri. Kamu itu pintar, tapi gagal memanfaatkan kepintaranmu dalam memahami arti sebuah ujian hidup.

    Saran aku, kamu harus sering gabung organisasi Kemasyarakatan yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, tu saranku. Sebab di lembaga seperti itu, tidak ada istilah untuk mengkucilaknmu. Justru digembreng untuk menjadi orang yg memilki kepribadian dan tahan banthin.

    Bila dibalik ke masa lalu, seharusnya waktu kuliah kamu gabung organisasi kemahasiswa yang berlevel Nasional, bisa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) atau Himpinan Mahasiswa Islam (HMI).

    ReplyDelete
  3. Betul itu, stay positif. Gunjingan dan cobaan bakal selalu ada, ga peduli mapan atau tidak. So, lalui apa yang disuka. Maksimalin, enjoy.

    ReplyDelete
  4. Semangat Farhann..hal-hal buruk pasti akan berlalu... Berpikir positif memang susah, tapi penting..
    Semoga kisah hidupmu ini menjadi pembelajaran berharga untk kita ssemua.
    Jangan simoan dendam pada mereka yg meremhkanmu..

    ReplyDelete
  5. Tetap semangat menjalani kehidupan dan berpikir positif karena orang meremehkan kehidupannya belum tentu lebih baik. Percayalah ada suatu tujuan baik, sehingga diizinkan untuk melewati ini semua.

    ReplyDelete
  6. Tersentuh baca blogpost ini. Semangat Mas untuk cita2 masa depan yang lebih baik. Saran saya, cari pembimbing seorang ustazd untuk menemani proses perubahannya. Ceritakan juga kpd orangtua agar mereka jg dapat mendampingi. Kalau perlu, segera menikah agar racun pornografi tidak merusak dirimu lagi.

    ReplyDelete
  7. Tulisan akan semangat hidup farhan meskipun pintar dan kexabduan pornografi itu harus d lawan.. Memang susah dan butih proses lama tapi itu pasti bisa.

    Dan pasti dari srmua kawan tsb pasti ada beberapa atau satu teman yg care untuk kita menjadi kbh baik bukan memaki ingin mnjadi benar tpi memaki agar kita lah org yg membena kan sikap kita..

    Semamgat farhan

    ReplyDelete
  8. Ternyata Mas Farhan sudah pintar dari kecil. Pinter matematika hingga ikut olympiade pula. Kelebihan yang enggak semua orang punya, loh! Seharusnya semua kelebihan itu patut di syukuri dan percayalah Allah memberikan yang terbaik untuk setiap manusia. Lebih sering mengingat hal baik akan membuat kita banyak bersyukur dan selalu berpikir positif.

    ReplyDelete
  9. Semangat Farhan, proud of u, tidak semua orang bisa bertahan dengan semua komentar negatif yang membayangi hidup, tapi kamu bisa, bahkan kamu bisa melebihi orang lain (tidak semua orang lho bisa jadi juara olimpiade sains, bisa kuliah di jurusan kedokteran, bahkan koass) semua komentar miring anggap sebagai asahan yang akan terus mengasah dirimu menjadi orang yang bersinar.

    ReplyDelete
  10. sempat mikir..saya pikir ini bukan kisah farhan sebenarnya
    sangat jujur dan realistis
    terharu membaca perjuangannya
    semoga tetap semangat ya
    abaikan komen negatif ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini semua adalah kisahku...
      dan akan kutuang dalam sebuah buku yang akan dirilis sebelum tahun 2020.

      Delete
  11. Hiraukan kata kata yang tisak enak. Semua usaha pasti bisa mendapatkan hasil ya mas.

    Kalo udah dapet amanat harus di jalankan dengan sebaik mungkin

    ReplyDelete
  12. Tetap semangat Farhan!

    Jatuh berkali-kali itu buat kita makin kuat. Aku sering gagal, dicaci, mungkin ga seberat kamu. Tapi pasti ada yg bs dipelajari dr itu semua. Tiap ada pikiran buruk, ingat ortu di rumah....

    ReplyDelete
  13. Perjuangan panjang untuk mencapai kesuksesan dan dirimu sudah membuktikan kemampuan. Aku melihat bahwa proses panjang ini perlu dihargai. Tidak ada hasil yang mempengaruhi usaha. Kereeeeem

    ReplyDelete
  14. Keren Kakak, tetep selalu berusaha. banyak orang bakal mendukungmu.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terimakasih telah mengunjungi blog pribadi saya. Jika suka, jangan sungkan-sungkan lho untuk berkomentar. Salam kenal!

Popular posts from this blog

Nge-Diss dalam Hip-Hop (#PikiranGue Ep. 1)

Apakah Eminem Layak Menjadi "King Of Hip Hop"?

Cerita Tentang Komitmen