Posts

Puisi | Menanti Waktu Berhenti

Image
Aku berbaring tergeletak di lantai kayu ini. Hanya menantikan waktu untuk berhenti. Semua beban tubuhku telah terangsur menghilang bersamaan dengan berbagai cairan yang keluar terus-menerus. Aku tidak kuat untuk meminta mereka berhenti berlari. Bahkan untuk bersuara pun, aku sudah lelah. Tuhan, apakah memang ini semua harus berakhir? Pakaianku kusam, mukaku penuh lebam, apakah ini layak untuk menghadapMu? Aku masih ingin membalas senyuman dari matahari yang membias di jendelaku. Aku masih ingin menyanyi bersama suara kendaraan yang berlalu lalang di saat berangkat kerja. Aku sudah tidak kuat untuk semua ini, Tuhan.
Aku berbaring tergeletak di lantai kayu ini. Hanya menantikan waktu untuk berhenti. Aku masih menyimpan rindu akan seorang cowok nun jauh di sana. Ya, cowok yang aku kenal hanya melalui dunia maya belaka. Dia bukanlah tampan untuk ukuran orang tempatku, namun perilakunya sangatlah menyenangkan. Mungkin dia sudah sibuk dengan kerjaannya melayani para orang sakit di sana. …

I Miss You, Nanako!.(part 1)

Image
Malam itu, aku sedang dikejar deadline terkait bahan proposal penelitian yang sedang aku bantu. Besok pagi sekitar jam 8, aku sudah diminta untuk memberikan bahan tersebut. Aku coba sejenak keluar untuk membeli kopi dulu di angkringan langgananku sembari menikmati angin malam kota Jogja. Entah kenapa, aku selalu menikmati suasana malam di sini. Tidak terlalu ramai, namun selalu syahdu. Meskipun, sayang, kadarnya sudah berkurang dengan munculnya fenomena klithik yang tidak tahu apa tujuan mereka melakukan ini. Membacok, lalu kabur.
Tidak ditemukan pandangan yang berbeda selama perjalanan. Angkringan tetap rame seperti biasa. Dipenuhi berbagai orang dengan masing-masing masalah dan pikirannya masing-masing. Sembari memesan kopi dan gorengan, pembicaraan pun dilakukan dan terkadang berjalan padat. Jujur, aku sendiri merupakan pengamat yangg buruk, dan bahkan kurang tertarik dengan beberapa topik diskusi. Meskipun, saat ada bahasan kesehatan, biasanya aku turut diajak ngomong. Namun, bi…

the love theory - nila

Image
"Gan, tadi dokter Safir ngomongin kamu loh! Dia bilang kamu penulis gitu, dan malah bilangin kamu terkena itu, apa namanya.. Gangguan Cemas Menyeluruh. Gitu Gan, tadi."

Omongan itu terjadi di saat aku terpaksa harus bolos di satu kelas bimbingan untuk Uji Kompetensi Dokterku. Kebetulan juga, di jadwal itu, aku ada pertemuan dengan salah satu departemen untuk membahas rencana penelitian. Tidak cukup mendesak sebenarnya, karena dosen yang sedang aku bantu kebetulan punya jadwal fleksibel. Tapi, karena, akunya juga yang mulai menghindari pertemuan dengan dokter Safir, aku sanggupi ajakan pertemuan tersebut. Karena, aku pun berpikir, bahwa sesi bimbingan dengan beliau sendiri tidak akan begitu berguna, hanyalah diisi dengan berbagai cerita tidak jelas. Iya, beliau layak dikategorikan sebagai Lambe Turah bagi para konsulen ataupun dosen di kampusku.
Melihat fakta tentang beliau sendiri, Dokter Safir adalah seorang dokter yang merupakan seorang dosen di kampusku yang cukup disegan…

the love theory - nanako (part 2)

Image
Hello, Gani! How are you doing? Congrats for officially becoming a doctor! Looking forward to meet you soon!” “Oh, hey Nanako! Thanks anyway! I am fine. How about you? I also can’t wait to talk with you a lot! So, when will you come here?” “I am fine too! I just booked a ticket, I will go to Jakarta first, and meet one friend there. And then, I will go to Jogjakarta. Can’t wait! I already searched several informations there. Talk to you later. I am going for a meeting. Bye!” -------------------------------------------------------- Chat dari Nanako itu datang saat aku sedang sibuk menjalani pekerjaan sebagai asisten penelitan di sebuah departemen di kampusku. Sekarang, aku sudah resmi bergelar dokter dan sedang menunggu jadwal dan tempat internship aku dimana selama setahun ke depan. Menurut peraturan yang ada, kami semua akan memulai program tersebut di awal tahun depan. Sehingga, untuk menghabiskan tahun ini, sebagian besar dari kami memilih untuk mencari pekerjaan sampingan. Kebanyakan…

the love theory - reni

Image
“Everyday, I felt love only in the movies Or in books or dramas Mmmm. That’s how I learned love”


Dalam setiap fase kehidupan, pasti kita akan mengenal kata awal dan kata akhir. Mulai dari sekolah, kuliah atau apapun. Kita dilahirkan di dunia ini, dan kelak kita juga akan dimatikan di dunia ini. Begitulah indahnya sebuah antonym. Hidup memang bagaikan roda. Begitu juga dengan perasaan. Terkadang, kita mengenal sesuatu dan terkadang kita mulai merasa untuk menjauh dari itu. Ya, mencerna akan rasa cintaku yang cukup tinggi akan Nanako ini, aku mulai mengingat momen dimana aku mulai belajar rasa cinta sendiri. Seperti yang disebutkan dalam lirik lagu TWICE di atas (tentunya ini terjemahan, kok), awal aku belajar tentang kata cinta itu dari beberapa film dan sinetron yang tayang di saat aku SD. Memang, dari segi jam tayang, televisi Indonesia masih cukup aman ketimbang sekarang. Di kala itu, rasio antara sinetron remaja, telenovela dan sinetron anak-anak masih menunjukkan kewajaran. TIdak sep…

the love theory - nuri (part 1)

Image
Fakta bahwa aku akan bertemu dengan Nanako dalam beberapa bulan ke depan, mengingatkanku akan betapa kuatnya sosial media dalam menemukan seorang teman, dan tentunya, menciptakan rasa cinta yang mendalam, padahal aku sudah hilang kontak dengannya selama 4 tahun. Berbicara tentang sosial media, aku pun teringat aan sebuah kisah di kala aku hilang kontak dengan Nanako. Kali ini, berawal dari Facebook. Ya, memanglah, lingkaran pertemananku sendiri tidaklah seluas yang kalian pikirkan. Cukup sulit bagi teman-teman untuk menemukan irisan dalam sebuah diagram Venn pertemanan yang kita miliki. Namun, pasti ada. Dunia itu tidak selamanya luas, kok.
Semua berawal dari 2 tahun yang lalu di kala aku berisitirahat dengan membuka Facebook dan muncul chat bertuliskan seperti ini,
“Halo, kak. Kenalkan namaku Nuri. Aku adalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang kebetulan lagi bahan skripsi tentang hip-hop. Aku dapat kontak Kakak dari tulisannya di Kompasiana. Bagus banget! Ohya, Kak Gani ada kenalan…

Maafkan Aku, Hippocrates!

Image
18 September 2018, 09:32 p.m (GMT+7)

"Kamu itu katanya calon dokter, tapi kok ga pandai ngebaca isi hatiku sih. Ga layak tuh jadi dokter. Kamu emang cowok paling buruk yang pernah aku temui, Farhan."

Pesan Instagram itu muncul beberapa hari sebelum aku menjalani rangkaian UKMPPD (Uji Kompetensi Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter), sebuah ujian yang benar-benar menentukan apakah aku sudah layak untuk mengalungi gelar "dr." atau tidak di sebelah kiri namaku. Pesan itu dikirimkan oleh seorang cewek dari kota besar di Jawa Barat yang aku kenal via sosial media. Ya, aku tidak akan bercerita tentang apa sebenarnya yang terjadi di balik munculnya kalimat itu. Karena, memang di situ, aku merasa bahwa aku yang layak disalahkan atas itu.

Beberapa bulan lalu, aku sendiri mungkin akan setuju dengan kalimat tersebut. Di kala itu, aku benar-benar merasa tidak layak jadi dokter. Benar-benar tidak menikmati bagaimana rasanya berjuang di hampir semua departemen saat rotasi klinik.…